SERANG — Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, para pedagang Muslim mulai mencari jalur alternatif. Banten, yang terletak di mulut Selat Sunda, menjadi pilihan logis untuk mengalihkan arus perdagangan rempah dunia.
Posisi geografisnya memang strategis. Kota ini berada di jalur antara Samudra Hindia dan Laut Jawa, diapit muara Sungai Cibanten dan anak-anak sungainya yang membuat kapal dagang bisa merapat dengan aman sepanjang tahun.
Sepanjang abad ke-16 dan ke-17, lada menjadi barang ekspor paling dicari di pasar dunia. Banten tumbuh menjadi salah satu produsen sekaligus pengekspor lada terbesar, menarik kapal-kapal dagang yang membawa emas, kain sutra, dan keramik untuk ditukar dengan rempah dari pedalaman Banten dan Lampung.
Sejumlah sejarawan bahkan menyebut Banten sebagai bandar terbesar di Nusantara pada masanya, melampaui Aceh maupun Malaka. Catatan penjelajah Portugis, Tomé Pires, dari tahun 1513 sudah menyebut Banten sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda.
"Pelabuhan Banten" sebenarnya bukan satu titik tunggal. Ada Pabean sebagai tempat pemungutan pajak dan bea cukai, Pamarican sebagai gudang penyimpanan lada sebelum diekspor, serta Karangantu yang menjadi pelabuhan besar untuk transaksi timbal-balik antarpedagang.
Karangantu tercatat sebagai pelabuhan terbesar kedua se-Nusantara setelah Sunda Kelapa, dan bahkan menjadi persinggahan kapal-kapal yang hendak melanjutkan pelayaran jauh hingga ke Australia.
Puncak kegemilangan Banten terjadi di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke-17. Kesultanan ini menjadi kekuatan maritim dan dagang yang disegani, bahkan menyaingi kekuatan Eropa yang mulai berdatangan.
Namun kompetisi dengan VOC Belanda yang mendirikan pos dagang di Batavia—tak jauh dari Banten—perlahan menggeser pusat gravitasi perdagangan. Setelah Belanda berhasil merebut kendali atas Kota Pelabuhan Banten pada akhir abad ke-17, aktivitas dagang internasional yang dulu menyemarakkan bandar ini pun berangsur pudar.
Hari ini, kawasan Banten Lama menyimpan sisa benteng dan situs arkeologis yang menjadi saksi dari masa ketika kota pesisir kecil ini pernah menjadi titik temu dunia. Dari sanalah kapal-kapal berlayar membawa lada Nusantara ke meja-meja bangsawan Eropa.
Sejarah Banten mengajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa maritim tak selalu ditentukan oleh besarnya wilayah, melainkan oleh cerdiknya membaca peluang di persimpangan jalur dunia.