BANTEN — PHE OSES menggenjot efisiensi operasi laut melalui program bertajuk Nawasena. Sepanjang tahun 2024 hingga April 2026, perusahaan mengklaim berhasil menekan biaya operasional secara signifikan.
Strateginya mencakup pengaturan ulang jadwal pengisian bahan bakar (bunker), pengurangan perjalanan kapal yang tidak produktif, hingga mengganti armada lama dengan kapal baru yang lebih irit konsumsi solar. Semua ini dilakukan tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan keandalan operasi di anjungan lepas pantai.
Kapal baru yang diberi nama Transko Barramundi 30 ini dibangun oleh PT Tri Ratna Diesel Indonesia. Kapal tersebut merupakan milik PT Pertamina Trans Kontinental, anak usaha Pertamina yang bergerak di bidang jasa kelautan.
Berkapasitas 30 orang, kapal ini dirancang khusus untuk memobilisasi pekerja dari dan ke instalasi lepas pantai milik PHE OSES. Proses pembangunannya meliputi fabrikasi, perakitan, hingga uji coba akhir dengan pengawasan ketat standar klasifikasi dan keselamatan pelayaran.
"Kehadiran Transko Barramundi diharapkan semakin memperkuat keandalan layanan marine sekaligus mendukung efisiensi operasi yang telah berjalan selama ini," ujar Riko Meidiya Putra, Manager Production & Operation PHE OSES.
Efisiensi di sektor kelautan berdampak langsung pada biaya produksi minyak dan gas bumi. Semakin efisien logistik dan mobilitas personel, semakin kompetitif harga pokok produksi migas nasional.
General Manager PHE OSES, Antonius Dwi Arinto, menegaskan bahwa pembangunan kapal ini bukan sekadar penggantian armada, melainkan bagian dari strategi jangka panjang. "PHE OSES terus mendorong inovasi dan efisiensi di berbagai lini operasi untuk memastikan kegiatan operasi hulu migas lepas pantai kami berjalan selamat, andal, dan berkelanjutan," katanya.
Dengan armada baru yang lebih efisien, PHE OSES optimistis target produksi dan keberlanjutan operasi di lepas pantai dapat terus dijaga di tengah tekanan biaya energi global. Langkah ini juga sejalan dengan arahan induk usaha, PT Pertamina (Persero), untuk menekan belanja operasional tanpa mengurangi standar keselamatan kerja.