Babad Banten Dihidupkan dalam Drama Musikal Kontemporer: Opera, Tari, dan Visual Mapping Mengisahkan Perlawanan Rakyat di GOR Cikupa Pandeglang

Penulis: Jauhari Lubis  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:50:01 WIB
Pementasan drama musikal kontemporer menghidupkan sejarah Babad Banten di GOR Cikupa, Pandeglang.

PANDEGLANG — Manuskrip sejarah Banten tak lagi hanya tersimpan di perpustakaan. Babad Banten dihidupkan kembali melalui drama musikal kontemporer yang memadukan opera, tarian, nyanyian, dan visual mapping.

Pementasan berjudul Di Ujung Pena, Di Ujung Darah: Dari Tinta Perjanjian Menuju Bara Perlawanan merupakan garapan sutradara Parwa Rahayu. Acara berlangsung di GOR Cikupa, Pandeglang, pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Mengapa Babad Banten Dikemas dalam Bentuk Drama Musikal?

Budayawan Pandeglang, Tirta Nugraha Pratama, mengatakan pendekatan ini dipilih untuk memperkenalkan warisan budaya Banten dengan cara yang lebih segar. Selama ini, manuskrip Babad Banten lebih sering dikenalkan melalui wayang atau teater konvensional.

"Kali ini kami mencoba media lain yang lebih kreatif dan inovatif dengan menggabungkan opera, visual mapping, tarian, dan nyanyian," kata Tirta dalam keterangannya, Selasa (18/6/2026).

Harapannya, pertunjukan ini dinikmati lintas usia, dari anak-anak hingga dewasa. Penonton tidak hanya memahami alur cerita, tetapi juga tertarik menggali lebih dalam sejarah dan budaya Banten.

Kisah Perlawanan Rakyat Banten yang Relevan dengan Masa Kini

Drama musikal ini mengangkat tema perlawanan rakyat Banten terhadap kekuasaan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Cerita berangkat dari konflik internal Kesultanan Banten yang kemudian dimanfaatkan VOC untuk memperluas pengaruhnya.

Dalam narasi pertunjukan, kerja sama antara Sultan Haji dan VOC digambarkan berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat. Tirta menilai pesan dalam cerita itu masih relevan dengan kondisi saat ini, terutama soal hubungan antara kebijakan penguasa dan kesejahteraan rakyat.

"Tema yang diangkat adalah bagaimana rakyat Banten menghadapi kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka. Ketika penguasa terpengaruh oleh kepentingan VOC, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Tirta.

Proses Riset: Aksara Pegon hingga Catatan Harian VOC

Proses kreatif pertunjukan tidak hanya mengandalkan satu sumber. Tim produksi melibatkan penerjemah karena manuskrip Babad Banten ditulis menggunakan aksara Pegon. Selain itu, tim riset mengumpulkan dan mencocokkan data dari berbagai catatan sejarah, termasuk dokumentasi harian milik VOC.

"Kami melibatkan penerjemah karena manuskrip ini menggunakan aksara Pegon. Ada tim riset yang mengumpulkan dan mencocokkan data dari manuskrip dengan berbagai catatan sejarah pada masa itu," kata Tirta.

Pementasan ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang diskusi bagi komunitas seni, budayawan, hingga peneliti tentang cara baru merawat ingatan kolektif masyarakat Banten.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: inforadar.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top