BANTEN — PHE, yang berperan sebagai subholding upstream Pertamina, baru saja mengumumkan rampungnya survei seismik 3D Kandawulo Offshore di Selat Makassar. Pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas teknis—hasil survei akan menjadi "peta" bawah laut yang menentukan lokasi paling prospektif untuk pengeboran sumur minyak dan gas baru.
Wilayah kerja PHE Jambi Merang selama ini dikenal sebagai penghasil gas, namun potensi di lepas pantai timur Kalimantan ini diyakini menyimpan cadangan hidrokarbon yang belum tergarap. Survei seismik 3D bekerja dengan memantulkan gelombang suara ke dasar laut, lalu membaca pantulannya untuk memetakan struktur geologi di kedalaman ribuan meter. Semakin detail peta yang dihasilkan, semakin akurat pula penentuan lokasi sumur, sekaligus menekan risiko kegagalan pengeboran yang biayanya bisa mencapai puluhan juta dolar AS per sumur.
Penyelesaian survei ini bertepatan dengan target pemerintah yang mengejar produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030. Tanpa eksplorasi agresif, lifting migas nasional akan terus merosot seiring menuaanya sumur-sumur eksisting.
PHE Jambi Merang sendiri merupakan salah satu aset strategis Pertamina dengan produksi gas yang memasok kebutuhan industri dan pembangkit listrik. Perusahaan sebelumnya juga tercatat aktif melakukan eksplorasi di beberapa blok lain di Indonesia bagian timur.
Kepala Divisi Eksplorasi PHE, dalam keterangan resminya, menyebut survei ini berjalan lancar tanpa insiden berarti. "Kami optimistis data yang dihasilkan akan membuka peluang penemuan cadangan baru yang signifikan," ujarnya, meski enggan membeberkan estimasi biaya survei.
Kegiatan seismik 3D melibatkan kapal khusus, peralatan canggih, dan puluhan tenaga ahli. Selama berlangsung, proyek ini menyerap tenaga kerja lokal di Balikpapan sebagai basis logistik, termasuk jasa katering, transportasi laut, dan penyewaan peralatan penunjang.
Dari sisi hulu, keberhasilan eksplorasi berpotensi menambah cadangan nasional yang saat ini hanya sanggup memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan kilang dalam negeri. Setiap temuan cadangan baru berarti penghematan impor minyak mentah yang membebani neraca dagang.
Bagi PHE, langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan yang mulai agresif kembali setelah beberapa tahun menahan belanja modal akibat pandemi. Sejumlah proyek seismik dan pengeboran eksplorasi juga tengah berjalan di wilayah kerja lain seperti di Laut Arafura dan lepas pantai Jawa Timur.
Data seismik yang terkumpul kini memasuki tahap pengolahan dan interpretasi yang diperkirakan memakan waktu 6-8 bulan. Setelah itu, tim geosaintis akan merekomendasikan titik bor yang paling menjanjikan untuk diajukan ke manajemen.
Tantangan terbesar bukan lagi pada teknologi, melainkan pada aspek komersial. Dengan harga minyak yang bergejolak, PHE harus memastikan setiap sumur eksplorasi yang dibor memiliki peluang sukses tinggi agar biaya eksplorasi tidak membebani keuangan perusahaan.
Langkah ini juga menjadi sinyal positif bagi mitra asing yang selama ini menunggu kepastian iklim investasi hulu migas Indonesia. Ketika BUMN utama bergerak agresif, efek kepercayaan terhadap regulasi dan prospek geologi nasional ikut terdongkrak.