BANTEN — Turunnya West Ham ke kasta kedua setelah 12 tahun berkutat di Premier League menjadi ujian terbesar bagi klub asal London Timur itu dalam satu dekade terakhir. Kegagalan di musim lalu, yang berujung pada finis di peringkat 18, disebut Gale sebagai akibat dari pembelanjaan yang boros namun tidak tepat sasaran.
"Kami sudah menghabiskan uang sebanyak klub lain, tapi kami membelanjakannya dengan tidak bijak. Ini saatnya untuk reset," ujar Gale kepada FourFourTwo, mengutip pernyataan yang dirilis Jumat (8/8).
Gale, yang pernah dua kali mengalami degradasi bersama West Ham dan berhasil membawa tim kembali promosi, menekankan bahwa mentalitas adalah kunci utama. Menurutnya, klub tidak boleh lagi hanya fokus pada gaya bermain calon rekrutan.
"Kami harus lebih memperhatikan karakter pemain yang dibeli, bukan hanya gaya bermainnya. Karakter justru lebih penting di Championship daripada di Premier League. Tidak ada yang bisa meremehkan divisi ini," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa West Ham tidak boleh berpikir enam tim akan otomatis bersaing di babak play-off. "Targetnya harus promosi langsung. Ini bukan jalan-jalan sore," imbuh pria yang kini berperan sebagai pengamat itu.
Di tengah kecemasan akan masa depan, satu hal yang membuat Gale optimistis adalah loyalitas suporter. Klub dilaporkan telah menjual 30.000 tiket musiman hanya dalam beberapa pekan setelah degradasi dipastikan.
Meski ia memperkirakan sekitar 10.000 penonton "turis" yang datang ke Stadion London untuk menonton Premier League akan hilang, Gale yakin atmosfer kandang justru akan semakin bergairah. Ia menyebut setiap tim lawan akan menganggap laga melawan West Ham sebagai partai puncak mereka.
"Jumlah suporter tandang akan tetap sama, bahkan mereka semua pasti ingin datang ke stadion kami. Lincoln City yang kecil pun akan memenuhi sektor tandang, jangan khawatir. Buat mereka, ini adalah final Piala mereka," kata Gale.
Gale tidak segan menunjuk akar masalah yang membuat The Hammers terpuruk. Ia menyoroti rasa puas diri yang menganggap tiga tim promosi selalu akan langsung terdegradasi.
"West Ham turun karena complacency. Mereka berpikir tim yang naik kasta pasti akan turun lagi. Padahal Sunderland tampil sensasional dan belanja pemain dengan bijak. Leeds juga brilian di kandang, Elland Road menyelamatkan mereka," jelasnya.
Menariknya, Gale justru melihat sisi terang dari kegelapan musim ini. Ia menilai degradasi bukanlah akhir dari segalanya dan ia mengaku menantikan atmosfer kompetitif Championship yang menurutnya lebih jujur dan keras dibandingkan Premier League.
"Saya benar-benar menantikan Championship. Jika Anda fans sejati, Anda tetaplah fans. Semoga ini menjadi awal dari masa depan yang lebih cerah," pungkasnya.