BANTEN — Proyek yang diberi nama Cilacap Biorefinery ini berlokasi di dalam kompleks kilang RU IV Cilacap. Menurut rencana yang tertuang dalam bahan, proyek dijadwalkan masuk tahap engineering, procurement, dan konstruksi pada 2027.
Artinya, tahun ini hingga 2026 menjadi periode persiapan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Tahap engineering dan procurement biasanya mencakup perancangan teknis, pengadaan peralatan, hingga penetapan kontraktor pelaksana.
Pertamina Patra Niaga memilih used cooking oil sebagai bahan baku utama. UCO merupakan limbah rumah tangga dan industri kuliner yang selama ini belum sepenuhnya termanfaatkan secara ekonomis.
Pemanfaatan UCO untuk SAF memberi dua manfaat sekaligus: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di sektor penerbangan, dan memberi nilai tambah pada limbah dapur yang selama ini dibuang. Skema ini sejalan dengan tren global yang mendorong maskapai mengurangi emisi karbon.
Pengembangan ekosistem SAF berbasis UCO menempatkan Pertamina Patra Niaga sebagai pemain yang menggarap hulu hingga hilir. Anak usaha Pertamina ini sebelumnya dikenal sebagai operator niaga bahan bakar, termasuk avtur untuk penerbangan domestik.
Dengan masuk ke produksi SAF, PPN memperluas perannya dari sekadar penyalur menjadi produsen bahan bakar penerbangan rendah karbon. Langkah ini juga merespons tekanan global agar industri aviasi menurunkan jejak emisi.
Penutup: Nilai investasi US$1,1 miliar menandakan keseriusan Pertamina Patra Niaga menggarap pasar SAF. Jika konstruksi berjalan sesuai jadwal pada 2027, Cilacap Biorefinery berpotensi menjadi salah satu fasilitas SAF pertama di Indonesia yang berbasis minyak jelantah.