TANGERANG — Penutupan forum energi internasional itu menandai berakhirnya tiga hari diskusi yang membahas modernisasi jaringan listrik, penerapan kecerdasan buatan (AI), dekarbonisasi sektor industri, hingga pasokan listrik untuk data center. Sejumlah isu strategis lain yang mengemuka mencakup wacana pengembangan energi nuklir dan penguatan kedaulatan energi regional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka acara secara resmi bersama jajaran pimpinan Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero). Kehadiran sejumlah pemimpin industri global menegaskan posisi forum ini sebagai ajang pertemuan pembuat kebijakan, operator, investor, dan penyedia teknologi di sektor ketenagalistrikan.
Forum ini menghasilkan enam kerja sama strategis dengan nilai total Rp 3,3 triliun. Investasi hijau tersebut mencakup penguatan infrastruktur energi dan pengembangan teknologi bersih (clean technology).
Sejumlah kesepakatan juga menyentuh peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta akselerasi pendanaan ramah lingkungan. Sinergi antara sektor publik dan swasta menjadi sorotan utama dalam gelaran tersebut.
Ketua Pelaksana Electricity Connect 2026 sekaligus Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Arsyadany G. Akmalaputri, menegaskan bahwa dialog yang terjadi tidak berhenti sebagai wacana semata.
"Kami melihat dinamika diskusi yang sangat konkret terkait tantangan sektor ketenagalistrikan saat ini. Bagi MKI, target utamanya adalah memastikan gagasan yang mengemuka dapat terealisasi menjadi solusi dan kerja sama nyata untuk keandalan sistem kelistrikan nasional," ujar Arsyadany.
Pertumbuhan ekonomi dan cepatnya ekspansi infrastruktur digital di Asia Tenggara mendorong lonjakan kebutuhan listrik yang signifikan. Portfolio Director Enlit Asia – Clarion Events, Simon Hoare, menilai posisi Indonesia sangat vital dalam peta transisi energi regional.
"Permintaan daya di ASEAN terus meningkat pesat seiring bertumbuhnya industri dan pusat data. Melalui ajang ini, kami mempertemukan pembuat kebijakan, operator, investor, dan penyedia teknologi secara langsung agar bertukar ide serta menciptakan koneksi yang berkelanjutan demi ketahanan energi ASEAN," ungkap Simon.
Selain sesi diskusi dan pameran teknologi mutakhir di bidang pembangkitan hingga distribusi daya, acara ini memfasilitasi program business matching. Langkah itu diharapkan mempercepat realisasi proyek-proyek energi terbarukan.
Penguatan kedaulatan energi di Indonesia maupun Asia Tenggara menjadi target akhir dari rangkaian pertemuan tersebut. Tema "Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience" menjadi payung seluruh pembahasan selama tiga hari pelaksanaan.