JAKARTA — Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan bahwa citra sebaran asap hanya menunjukkan keberadaan asap di lapisan atmosfer, bukan hasil pengukuran langsung konsentrasi polutan di permukaan. BMKG masih menelusuri apakah asap tersebut berkaitan dengan kenaikan polutan di permukaan Jakarta atau sekadar melintas di lapisan yang lebih tinggi.
Pada citra pukul 13.00 WIB, asap terpantau di 31 wilayah Indonesia, membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. BMKG juga mencatat asap lintas negara dari Sumatera dan Kalimantan yang bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menyebut konsentrasi PM2.5 di stasiun referensi pada 1–14 Oktober berkisar 35–75 µg/m³ dengan pola fluktuasi yang tergolong normal. Tidak ada peningkatan signifikan pada periode tersebut.
Pemodelan lintasan udara HYSPLIT untuk 1–14 Oktober juga belum memberi indikasi kuat perpindahan polutan karhutla dari Sumatera dan Kalimantan ke Jakarta. Pemprov DKI belum menemukan bukti kuat bahwa asap karhutla telah mencapai udara permukaan.
Gubernur Pramono Anung mengakui kondisi udara Jakarta memburuk dalam dua hingga tiga hari terakhir, tetapi memilih tidak berspekulasi soal penyebabnya. Jakarta memang punya sumber polusi sendiri, sehingga penurunan kualitas udara belum tentu berasal dari asap kiriman.
Asap karhutla berbeda dari polusi harian. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang bisa masuk ke saluran pernapasan.
Paparan partikel halus berisiko memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi mata dan kulit. Risiko lain mencakup gangguan sistemik seperti penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, dan pekerja luar ruangan. Penjelasan Kemenkes tersebut disampaikan terkait kabut asap di wilayah lain pada Agustus lalu, sehingga merupakan gambaran risiko umum, bukan penilaian kondisi udara Jakarta saat ini.
Dinas Kesehatan DKI mencatat 1.966.308 kasus ISPA hingga Oktober 2025. ISPA menjadi penyakit dengan kunjungan terbanyak di puskesmas, dengan tingginya polusi udara dan fenomena kemarau basah disebut sebagai faktor dominan.
Dinkes menyatakan infeksi pernapasan akut perlu diwaspadai, sementara fasilitas kesehatan disebut siap melayani. Tambahan paparan asap berpotensi memperberat kondisi kelompok rentan yang sudah menanggung beban pernapasan tinggi.
BMKG mengimbau warga bersikap antisipatif tanpa panik. Warga diminta memantau kualitas udara lewat BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, atau aplikasi pemantau udara, dan mengurangi aktivitas luar ruangan bila udara masuk kategori tidak sehat.