OJK Banten Gelar Pasar Keuangan Rakyat di Serang, Sambut 24 Persen Celah Literasi Finansial

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 13:45:31 WIB
Kepala OJK Provinsi Banten Adi Dharma menyampaikan sambutan dalam gelaran Pasar Keuangan Rakyat Banten 2026 di Kota Serang.

SERANG — Kepala OJK Provinsi Banten, Adi Dharma, menyebut PKR Banten 2026 sebagai upaya mendekatkan produk dan layanan keuangan langsung ke lapak warga. Kegiatan itu digelar bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) se-Provinsi Banten dan para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi puncak perayaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026.

Rangkaian acara dibuka dengan Financial Fun Run yang diikuti ribuan peserta. Alunan musik tradisional Banten bersahutan dengan riuh pengunjung, berpadu aroma kuliner lokal di area festival.

Inklusi 93,61 Persen, Literasi Baru 69,57 Persen

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menempatkan indeks inklusi keuangan masyarakat Indonesia di angka 93,61 persen. Indeks literasi keuangan berada di level 69,57 persen.

Selisih sekitar 24 persen itu menunjukkan akses fisik ke lembaga keuangan belum cukup. Warga dinilai masih perlu memahami karakteristik dan risiko produk finansial yang mereka gunakan.

Adi menegaskan perluasan akses keuangan yang sehat harus bersandar pada fondasi literasi yang kuat.

"Melalui Pasar Keuangan Rakyat Banten 2026, kami ingin semakin mendekatkan produk dan layanan keuangan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, transaksi yang aman, serta kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal," ujarnya.

Empat Aspek yang Wajib Dicermati Sebelum Pakai Produk Keuangan

OJK Banten mengingatkan warga agar mencermati aspek manfaat, biaya, risiko, hingga hak dan kewajiban secara komprehensif sebelum memutuskan menggunakan produk jasa keuangan. Peringatan itu menyasar maraknya tawaran keuangan ilegal yang kerap menargetkan masyarakat berpenghasilan rendah.

"Inklusi keuangan bukan sekadar membuka akses, tetapi juga memastikan masyarakat mampu memanfaatkan layanan keuangan secara bijak, aman, dan produktif," kata Adi.

Pendekatan edukasi dikemas cair lewat sejumlah kegiatan. Financial Expo membuka konsultasi langsung soal layanan keuangan resmi, sementara UMKM Expo menjadi panggung pelaku usaha lokal Banten mempromosikan produk unggulan.

Edukasi interaktif hadir lewat simulasi Financial Passport Challenge dan Financial Talkshow. Program itu dibalut kearifan lokal serta kegiatan populer seperti Festival Kuliner Rp1, bazar sembako murah, dan kompetisi tari tradisional Banten.

UMKM Jadi Tulang Punggung, OJK Ingatkan Hitung Rasional

Di arena PKR Banten 2026, pelaku usaha bertemu langsung dengan industri jasa keuangan untuk membuka peluang pembiayaan lebih terukur. OJK Banten memberi catatan tebal soal manajemen risiko.

Akses pembiayaan harus dihitung rasional berdasarkan kemampuan membayar. Fasilitas modal diharapkan memacu produktivitas usaha, bukan menambah beban finansial.

Pilar inovasi ditunjukkan lewat sosialisasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai alternatif pembayaran nontunai yang efisien. Transaksi digital tetap menyimpan celah risiko penipuan dan penyalahgunaan data.

Karena itu, literasi keuangan digital difokuskan pada peningkatan kewaspadaan masyarakat. Gelaran dua hari di Kota Serang itu menjadi potret penegakan empat pilar OJK: sektor keuangan yang stabil, inklusif, inovatif, dan terpercaya.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: ekbisbanten.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top