TANGERANG — Bangunan dan pagar milik pihak swasta yang berdiri di atas badan Sungai Cipayeum menyisakan aliran yang sempit, sehingga air kerap meluap ke rumah dan jalan sekitar Desa Cisereh. Warga mengeluhkan luapan yang muncul bahkan saat hujan berintensitas ringan.
Iskandar menyebut titik-titik rawan penyempitan menjadi penyebab utama aliran sungai tidak lancar. Kondisi itu, menurut dia, sudah terjadi sejak sekitar 2019, termasuk ketika penanganan kawasan tersebut masih berada di bawah pihak swasta.
Pemerintah desa sudah menggelar rapat koordinasi sebanyak tiga hingga empat kali untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pertemuan itu melibatkan pihak kecamatan, Dinas Sumber Daya Air (SDA), serta para pemilik bangunan swasta.
Dalam forum tersebut, pihak swasta sempat menyatakan kesiapan membongkar pagar secara mandiri. Kesepakatan itu tidak pernah terwujud di lapangan hingga sekarang.
"Sudah dua atau tiga kali rapat di kantor SDA waktu itu, katanya siap membongkar. Giliran didatangi dan diajak ke lokasi, katanya 'ayo', tapi kenyataannya tidak juga," ujar Iskandar, Senin (2/11/2026).
Penyempitan parah membuat aliran Sungai Cipayeum terbatas sejak kawasan Cimanceuri, melewati kawasan industri Pasir Bolang, hingga jalur tol di Balaraja. Dampaknya, air tidak punya ruang cukup untuk mengalir saat debit meningkat.
Pemerintah desa meminta instansi berwenang turun tangan membersihkan dan menormalisasi aliran sebelum musim hujan tiba. Penertiban bangunan liar di atas badan sungai dinilai penting agar fungsi drainase alami pulih dan banjir berulang bisa dicegah.
"Kami terus mendorong koordinasi lintas instansi agar permasalahan menahun ini segera dituntaskan demi kepentingan warga yang terdampak," kata Iskandar.
Hingga kini, proses mediasi dan penegakan aturan belum membuahkan hasil konkret di lapangan. Warga Desa Cisereh masih menunggu kepastian pembongkaran sebelum curah hujan meningkat.