TANGERANG — PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) tak hanya membukukan kenaikan laba bersih menjadi Rp65,5 miliar pada tahun 2025, tetapi juga langsung memutuskan alokasi hampir seluruhnya untuk ekspansi. Dari total laba tersebut, sebanyak Rp64,53 miliar dialokasikan untuk modal kerja dan memperkuat likuiditas operasional, sementara Rp1 miliar disisihkan sebagai dana cadangan.
Direktur Utama IRRA, Heru Firdausi Syarif, mengatakan bahwa perseroan menyiapkan tiga pilar strategi utama sepanjang tahun 2026. “Kondisi industri saat ini menuntut kami untuk bergerak lebih cepat. Melalui strategi ini, manajemen ingin memastikan Perseroan tidak hanya responsif terhadap peluang baru, tetapi juga memiliki pondasi operasional yang siap menghadapi kebutuhan di lapangan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Tiga Pilar Strategi: Distribusi, Kemitraan, dan Substitusi Impor
Strategi pertama berfokus pada aspek operasional, yakni meningkatkan kapasitas penjualan dan memperluas jaringan titik distribusi ke berbagai daerah. Kedua, perseroan akan memperluas kerja sama strategis dengan pihak swasta dan lembaga pemerintah, termasuk membangun kemitraan bersama principal baru untuk memperkuat portofolio produk.
Pilar ketiga menjadi yang paling krusial: fokus pada penjualan produk Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD) milik grup perusahaan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya substitusi impor yang digaungkan pemerintah. IRRA juga akan mengembangkan teknologi medis seperti minimally invasive surgery serta berpartisipasi aktif dalam program kesehatan nasional.
Penjualan Tembus Rp1,1 Triliun, Segmen Diagnostik Mendominasi
Secara kinerja keuangan, perseroan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,1 triliun pada tahun 2025. Net profit margin meningkat ke level 5,96 persen, sementara total aset menembus angka Rp2,4 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen produk Diagnostik In Vitro yang menjadi kontributor terbesar dengan penjualan Rp693,48 miliar.
Disusul segmen Alat Kesehatan Elektromedik Steril sebesar Rp347,94 miliar, segmen Alat Kesehatan Non-Elektromedik Rp52,88 miliar, serta kategori produk kesehatan penunjang lainnya sebesar Rp5,91 miliar. “Selaras dengan kebijakan pemerintah, kami akan terus memastikan kelancaran distribusi alat kesehatan demi meningkatkan efektivitas perawatan dan akurasi