LEBAK — Sebanyak 793 warga Kabupaten Lebak terinfeksi DBD selama delapan bulan pertama 2026. Dari jumlah itu, tiga orang tidak tertolong. Kasus terbanyak terkonsentrasi di kawasan perkotaan yang padat hunian dan mobilitas warganya tinggi.
Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Lebak Rohmat Puji Raharjo menyebut tiga puskesmas dengan beban kasus paling berat. Selain Rangkasbitung, Kalanganyar dan Cibadak masuk kategori wilayah dengan kasus tinggi.
"Ya, DBD paling banyak ditemukan di daerah perkotaan seperti Rangkasbitung, Kalanganyar dan Cibadak," kata Rohmat, Jumat 25 September 2026.
Puskesmas Rangkasbitung Tangani 121 Pasien DBD
Rincian beban tiap puskesmas memperlihatkan kesenjangan yang cukup lebar. Puskesmas Rangkasbitung menangani 121 orang, hampir dua kali lipat Puskesmas Kalanganyar dengan 62 pasien. Puskesmas Cibadak menyusul dengan 50 pasien.
Angka-angka itu membuat Rangkasbitung berstatus wilayah paling rentan DBD di Lebak. Kepadatan penduduk dan pola mobilitas harian warga kota disebut ikut mempercepat penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Dinkes Minta Puskesmas Galakkan Promosi Kesehatan
Dinkes Lebak sudah mengeluarkan edaran ke seluruh puskesmas. Isinya instruksi menggalakkan promosi kesehatan, khususnya di wilayah dengan kasus DBD tinggi. Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan kasus di musim kemarau.
Rohmat menekankan pemberantasan sarang nyamuk sebagai cara paling efektif. Warga diminta menjalankan 3M Plus secara rutin sepekan sekali, mulai dari menguras dan menyikat tempat penampungan air hingga menutup serta mendaur ulang barang bekas.
"Masyarakat optimalkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus secara rutin 1 minggu sekali. Seperti menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup dan mendaur ulang barang bekas serta plus yaitu menggunakan lotion anti nyamuk, larvasida di tempat penampungan air yang sulit untuk dikuras memasang kasa nyamuk dll, serta melakukan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J)," jelasnya.
Fogging Dinilai Tak Selesaikan Akar Masalah
Dinkes Lebak tidak menempatkan fogging sebagai solusi utama. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh jentik yang masih berkembang di penampungan air. PSN dinilai lebih efektif karena memutus siklus hidup nyamuk sejak fase larva.
Faktor kebersihan lingkungan juga masih jadi penyebab utama tingginya kasus. Rohmat menyoroti perilaku warga yang belum menerapkan pola hidup bersih dan sehat secara konsisten di rumah tangga.
"DBD ada, karena prilaku masyarakat kurang menerapkan PHBS (pemberantasan sarang nyamuk di rumah tangga) dan juga kasus import (orang sakit di luar lebak seperti karyawan/pegawai atau mahasiswa karena KTPnya lebak yang bersangkutan pulang dan di rawat ke lebak," katanya.
Kasus Impor dari Perantau Ikut Tambah Beban
Selain penularan lokal, Dinkes Lebak mencatat kasus impor dari warga yang sakit di luar daerah. Karyawan, pegawai, dan mahasiswa ber-KTP Lebak yang terinfeksi di perantauan kerap pulang dan dirawat di fasilitas kesehatan setempat.
Pola ini menambah beban puskesmas dan rumah sakit di Lebak tanpa bisa dicegah lewat pengasapan di lingkungan rumah. Dinkes meminta warga memantau jentik di rumah masing-masing lewat gerakan satu rumah satu jumantik.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, Dinkes Lebak menargetkan penurunan kasus lewat penguatan PSN di tingkat RT/RW. Evaluasi berkala akan dilakukan di puskesmas dengan angka kasus tertinggi.