TANGSEL — Sebanyak 250 peserta dari puluhan tim turun di dua kelas yang dipertandingkan, yakni Indonesian Damper Class (IDC) dan Indonesian Open Class (IOC). Kelas IDC diikuti sekitar 20 tim dengan total 150 peserta, sementara kelas IOC diikuti 15 tim dengan sekitar 100 peserta. Mayoritas peserta berasal dari wilayah Jabodetabek.
Ketua Panitia yang juga Kepala Bidang Mini 4WD IMI Kota Tangsel, Heris Cahya Kusuma, mengatakan Kapolres Cup merupakan bagian dari program pembinaan atlet menuju Porprov Banten 2026. Terlebih, Kota Tangsel akan menjadi tuan rumah pesta olahraga tingkat provinsi tersebut.
“Event ini kami laksanakan sebagai bagian dari persiapan menuju Porprov 2026, di mana Tangsel menjadi tuan rumah. Sekaligus menjadi ajang try out dan pemetaan kekuatan atlet maupun calon lawan dari kota dan kabupaten lain,” kata Heris.
Ia menilai kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi kesempatan bagi atlet Tangsel untuk mengukur kemampuan sekaligus membaca peta persaingan. “Kami ingin melihat kemampuan atlet Tangsel sekaligus memetakan kekuatan lawan. Harapannya nanti kita bisa lebih siap dan meraih medali emas di Porprov 2026,” ujarnya.
Berbeda dengan balapan individu, Mini 4WD pada kejuaraan ini menggunakan sistem beregu. Setiap tim beranggotakan enam pebalap yang harus bekerja sama untuk lolos ke babak berikutnya. “Yang bertanding adalah tim, bukan individu. Satu tim terdiri dari enam racer,” jelas Heris.
Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp15 juta, dengan rincian Rp10 juta untuk kelas IDC dan Rp5 juta untuk kelas IOC. Selain juara pertama hingga keempat, panitia juga memberikan penghargaan Best Time Overall kepada tim yang mencatatkan waktu tercepat dalam tiga putaran lintasan.
Panitia Teknis Kapolres Cup, Pojay, menjelaskan seluruh perlombaan mengacu pada regulasi resmi IMI. Saat ini terdapat tiga kelas yang diakui, yakni Indonesian Basic Class (IBC), Indonesian Damper Class (IDC), dan Indonesian Open Class (IOC). Namun, Kapolres Cup hanya mempertandingkan kelas IDC dan IOC.
Menurutnya, kelas IDC masih menerapkan pembatasan modifikasi sehingga kendaraan bersifat plug and play. Sementara pada kelas IOC, peserta memiliki keleluasaan lebih dalam melakukan modifikasi, namun tetap harus memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. “Kalau IOC modifikasinya lebih bebas, tetapi tetap ada batasannya sesuai aturan IMI,” ujar Pojay.
Ia menambahkan, seluruh peserta harus melewati babak penyisihan dengan menyelesaikan tiga putaran lintasan untuk memperoleh tiket ke fase berikutnya. Dari tahapan tersebut, jumlah tim akan terus disaring hingga menyisakan para finalis. “Semakin lama persaingan semakin mengerucut hingga menghasilkan juara. Biasanya sampai enam babak,” katanya.