SERANG — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (FKIP Untirta) memproyeksikan kolaborasi antara akademisi dan lembaga keagamaan sebagai pilar utama pembangunan Banten. Sinergi ini dinilai krusial mengingat besarnya populasi pesantren yang tersebar hingga ke tingkat desa.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Sinergi Kampus, Pesantren, dan Masjid yang berlangsung di Aula Karakter Jawara FKIP Untirta, Serang, Rabu (6/5/2026). Pertemuan ini mempertemukan kalangan akademisi, praktisi pendidikan, hingga pembuat kebijakan tingkat nasional.
Dekan FKIP Untirta, Dr. Fadlullah, memaparkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten yang mencatat keberadaan 6.776 pondok pesantren. Belasan ribu lembaga ini tersebar merata di 155 kecamatan dan 1.551 desa di seluruh Tanah Jawara.
“Jika dirata-rata, lebih dari empat pesantren berada di setiap desa. Ini adalah potensi besar yang harus dikelola secara kolaboratif,” ujar Dr. Fadlullah di hadapan peserta seminar.
Menurutnya, pesantren saat ini telah bertransformasi. Lembaga ini tidak lagi sekadar menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat dan pusat penguatan karakter bangsa.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah integrasi kebutuhan logistik pesantren dengan produksi masyarakat lokal. FKIP Untirta mendorong agar pesantren menjadi pasar utama bagi produk-produk dari petani, peternak, hingga nelayan di sekitarnya.
“Jika kebutuhan pesantren dapat dipenuhi dari lingkungan sekitar, maka ini akan membuka peluang besar bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM untuk berkembang,” kata Fadlullah menjelaskan konsep kemaslahatan ekonomi tersebut.
Pola kerja sama ini diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri. Pesantren berperan sebagai konsumen sekaligus inkubator bisnis bagi warga sekitar, sehingga perputaran uang tetap berada di lingkup daerah.
Selain sektor ekonomi, kolaborasi ini menyasar peningkatan mutu pendidikan melalui riset dan digitalisasi. FKIP Untirta berkomitmen memberikan pendampingan bagi pesantren untuk beradaptasi dengan teknologi informasi tanpa meninggalkan akar nilai keagamaan.
Seminar ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Syarif Hidayat dan anggota DPR RI Adde Rosi. Kehadiran perwakilan legislatif diharapkan mampu mempercepat dukungan regulasi dan anggaran, terutama untuk program digitalisasi pesantren di pelosok Banten.
Saat ini, FKIP Untirta tengah menjajaki kemitraan konkret dengan Rumah Salmah TV, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP). "Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan pendidikan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas," tutur Fadlullah.
Langkah ini menjadi babak baru bagi Untirta dalam memperluas pengabdian masyarakat. Dengan melibatkan masjid sebagai pusat edukasi keumatan, kampus berharap nilai-nilai pendidikan inklusif dapat menjangkau lapisan masyarakat paling bawah.