BANTEN — Dalam sebuah acara di Pelabuhan Melbourne pekan lalu, Wakil Presiden BYD, Liu Xueliang, secara gamblang mengonfirmasi potensi investasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa saat ini prioritas BYD adalah memenuhi permintaan pelanggan yang melonjak, namun perusahaan sangat terbuka untuk opsi produksi lokal di masa depan.
Liu menjelaskan bahwa belum ada diskusi formal dengan pemerintah Australia mengenai pendirian pabrik. "Belum ada dalam perencanaan. Mungkin keutamaan kami saat ini adalah jumlah penjualan, serta untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terlebih dahulu," ujarnya dalam wawancara dengan CarExpert. "Namun, BYD sangat terbuka. Semuanya ada kemungkinan."
Pernyataan Liu itu disampaikan saat menyaksikan proses bongkar muat kapal roll-on/roll-off (RORO) milik BYD, Zhengzhou, di Pelabuhan Melbourne. Kapal tersebut merupakan satu dari delapan kapal khusus yang dioperasikan BYD untuk distribusi global. Dalam satu kali pengiriman, Zhengzhou memunggah 4.309 unit kendaraan yang datang langsung dari Shanghai.
Salah satu alasan BYD bisa menekan harga jual di Australia adalah tingkat integrasi vertikal yang sangat tinggi. Perusahaan menguasai sebagian besar rantai pasokannya sendiri, mulai dari baterai hingga semikonduktor. Strategi ini memungkinkan BYD mengendalikan biaya produksi lebih ketat dibandingkan kompetitor yang masih bergantung pada pemasok pihak ketiga.
Saat ini, BYD menduduki peringkat kedua penjualan kendaraan listrik di Australia, hanya kalah dari Toyota. Pencapaian ini signifikan mengingat BYD baru masuk pasar Australia beberapa tahun terakhir. Jika rencana produksi lokal terealisasi, posisi BYD bisa semakin kuat berkat insentif perdagangan bebas.
Australia dan China telah memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) sejak 2015. Artinya, kendaraan utuh (CBU) dari China tidak dikenakan bea masuk sama sekali. Kondisi serupa juga berlaku untuk mobil impor dari Jepang dan Thailand yang juga memiliki FTA dengan Australia. Keuntungan tarif nol persen ini menjadi faktor lain yang membuat BYD enggan buru-buru membangun pabrik.
Jika Australia jadi direalisasikan, BYD akan menambah daftar panjang fasilitas produksi globalnya. Saat ini perusahaan sudah memiliki pabrik perakitan di Thailand, Brasil, dan Uzbekistan. Di Amerika Utara, BYD mengoperasikan pabrik baterai di California, sementara di Eropa sedang dalam tahap perencanaan pembangunan beberapa fasilitas produksi baru.
Liu juga mengungkapkan rencana ekspansi ke segmen kendaraan komersial di Australia. "Tidak hanya kendaraan penumpang, kami juga akan membawa lebih banyak kendaraan komersial untuk dipasarkan," tegasnya. Langkah ini dinilai strategis mengingat harga solar yang melonjak tinggi di Australia, membuat operator logistik dan angkutan umum mulai melirik opsi elektrifikasi.