BANTEN — Berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters, angka tersebut merupakan level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Total impor minyak mentah India pada Agustus kini diperkirakan hanya mencapai 4,17 juta bpd, menyusut dari 5,06 juta bpd pada bulan sebelumnya.
Penurunan tajam ini berpusat pada kargo dari pelabuhan Eropa Rusia yang merosot sekitar 770.000 bpd atau hampir 30% sepanjang Agustus. Padahal, hanya beberapa pekan sebelumnya, Rusia menyumbang rekor 50,83% dari total impor minyak India pada Juli.
Analis Riset Utama Kpler, Sumit Ritolia, mengatakan bahwa pergeseran pola impor China menjadi pemicu utama ketatnya persaingan. China selama ini menjadi tujuan utama ekspor minyak mentah Iran, dan ketika pasokan dari Teheran terganggu, Beijing otomatis mencari pengganti ke Moskow.
"Jika China, yang mengimpor sebagian besar minyak mentah Iran, terpaksa mencari pasokan dari tempat lain, hal ini akan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan kargo alternatif yang diandalkan oleh India," ujar Ritolia dikutip dari Indiashippingnews, Jumat (28/8/2026).
Kondisi ini mempersempit ruang gerak India yang selama ini mengandalkan minyak Rusia dengan harga diskon untuk menjaga margin kilang domestik. Dengan China yang kembali menyerap kargo secara agresif, volume yang tersedia untuk India otomatis berkurang.
Persaingan ini terjadi di tengah lumpuhnya pasokan Iran, yang memaksa kedua negara pengimpor minyak terbesar di dunia itu saling jegal untuk mengamankan volume dari Rusia. Harga diskon yang selama ini dinikmati pembeli besar pun berpotensi tergerus seiring meningkatnya permintaan terhadap kargo yang sama.
Bagi pelaku pasar, penurunan impor India ini menjadi sinyal bahwa aliran perdagangan minyak global sedang mengalami realokasi besar. India yang kehilangan akses ke kargo Rusia harus mencari sumber alternatif lain, sementara China justru memperkuat posisinya sebagai pembeli dominan minyak Moskow.
Ketegangan pasokan ini berpotensi menopang harga minyak mentah dunia dalam jangka pendek, mengingat dua konsumen terbesar Asia sedang berlomba mengamankan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik.