IHSG Dibuka Melemah ke 6.511, Relaksasi DHE dan Sinyal The Fed Jadi Penentu

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 12:13:31 WIB
IHSG dibuka melemah ke level 6.511 pada perdagangan hari ini.

BANTEN — Relaksasi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam menjadi katalis utama bagi pasar domestik pekan ini. Pemerintah resmi melonggarkan kewajiban penempatan devisa bagi 64 eksportir sektor pertambangan, dari semula 100 persen selama 12 bulan menjadi minimal 30 persen dengan tenor singkat tiga bulan. CORE Indonesia memperkirakan kebijakan ini memuat potensi devisa senilai US$ 30-40 miliar per tahun, yang sebagian besar berasal dari rantai industri nikel, baja, dan mineral olahan.

Fleksibilitas bagi Eksportir, Cadangan Devisa Berkurang

Kelonggaran ini memberi ruang likuiditas yang lebih besar bagi korporasi, tetapi ada konsekuensi yang perlu dicermati. "Relaksasi tersebut memberikan fleksibilitas likuiditas lebih besar bagi eksportir, tetapi sekaligus mengurangi jumlah devisa dalam sistem keuangan domestik pada rentang waktu panjang," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Secara teknikal, Liza menilai IHSG masih memiliki ruang penguatan selama mampu bertahan di atas area support 6.357. Level resistance terdekat yang menjadi target berada di 6.551, dengan potensi kelanjutan menuju 6.635 hingga 6.733. Namun, apabila tekanan jual meningkat dan menembus support 6.454, indeks berisiko terkoreksi ke area 6.385-6.377 sebagai support kuatnya.

Risiko The Fed dan Meredanya Konflik Timur Tengah

Dari eksternal, kepemimpinan baru The Fed memperkuat kekhawatiran pasar soal suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Ketua The Fed Kevin Warsh menilai laju inflasi AS belum menunjukkan perlambatan berarti, sehingga kebijakan moneter ketat perlu dipertahankan untuk mengembalikan tekanan harga menuju target. Sikap ini mendorong investor melakukan reposisi portofolio, terutama pada saham-saham pertumbuhan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Di sisi lain, premi risiko geopolitik mulai mereda. Konflik di Timur Tengah dinilai pasar sebagai tekanan ekonomi yang tidak mengancam pasokan fisik energi. "Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global," jelas Liza.

Uji Coba Harga Saham Rp1 dan Auto Rejection Baru

Sentimen tambahan datang dari Bursa Efek Indonesia yang menjadwalkan uji coba perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler. Bersamaan dengan itu, BEI juga akan memberlakukan klasifikasi baru untuk ketentuan auto rejection, yang berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan pada saham-saham berharga rendah.

Kombinasi sentimen domestik yang longgar dan tekanan eksternal diperkirakan masih akan membayangi pergerakan indeks pada sesi-sesi berikutnya. Investor disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah serta arah kebijakan The Fed sebagai indikator utama.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: merahputih.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top