BANTEN — Selain Rintaro, BIFF mengundang empat sutradara generasi baru: Kadowaki Kohei, Katanosaka Ryo, Natsume Shingo, dan Shinomiya Yoshitoshi. Kehadiran mereka mempertegas misi program ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan animasi Jepang. Sebagian besar judul yang diputar jarang tampil di bioskop Korea, dan beberapa di antaranya akan menjalani premiere Korea di festival ini.
Satu judul bahkan memiliki ikatan historis dengan Busan. Film omnibus "Memories" (1995) yang diawasi Otomo Katsuhiro kembali ke festival ini setelah tiga dekade lalu tayang di edisi pertama BIFF. Untuk kesempatan ini, penonton akan disuguhkan versi remaster 2025 yang menandai ulang tahun ke-30 film tersebut.
Program klasik dibuka dengan "The White Snake Enchantress" (1958) garapan Yabushita Taiji. Adaptasi dari kisah rakyat Tiongkok ini tercatat sebagai film animasi Jepang pertama yang diproduksi penuh warna. Yang menarik, film produksi Toei Animation ini meninggalkan kesan mendalam pada Miyazaki Hayao—sang pendiri Studio Ghibli pernah menulis dalam buku "Starting Point 1979-1996" bahwa menonton film ini membuatnya menangis hingga subuh.
Dari era yang berbeda, "Belladonna of Sadness" (1973) hadir sebagai karya eksperimental untuk penonton dewasa. Diproduksi Mushi Production, film ini mengadaptasi novel "La Sorcière" karya Jules Michelet dan mengisahkan Jeanne, perempuan yang berdamai dengan Iblis lalu berubah menjadi penyihir. Setelah debutnya, film ini diundang ke Festival Film Berlin 1973 dan kemudian menjadi film kultus global setelah menjalani restorasi 4K pada 2016. Aktor Nakadai Tatsuya mengisi suara Iblis, sementara visualnya mengandalkan lukisan cat air statis di bawah arahan seni Fukai Kuni.
Judul lain yang tak kalah penting adalah "Phoenix 2772 (Space Firebird)" (1980). Film ini digarap langsung oleh Tezuka Osamu sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, berdasarkan saga manga "Phoenix" miliknya. Pembukaan film sepanjang 12 menit tanpa dialog—hanya musik dan visual yang mengikuti pertumbuhan tokoh utama—menjadi salah satu bagian yang paling banyak dibicarakan hingga kini.
Dari tangan Oshii Mamoru, "Angel's Egg" (1985) menghadirkan animasi yang hampir tanpa kata, bergantung pada simbolisme dan citraan alkitabiah. Film yang dibuat bersama ilustrator Yoshitaka Amano ini menjadi fondasi pendekatan visual yang kemudian dibawa Oshii ke "Ghost in the Shell" (1995). Sementara itu, "Metropolis" (2001) mengadaptasi manga karya Tezuka Osamu dari 1949, disutradarai Rintaro dengan skenario dari Otomo Katsuhiro. Produksinya memakan waktu lima tahun dengan anggaran terbesar dalam sejarah animasi Jepang pada masanya.
Dua karya debut juga masuk dalam jajaran klasik. "Mind Game" (2004) menandai debut fitur Yuasa Masaaki, yang sebelumnya dikenal lewat "Crayon Shin-chan" dan "Chibi Maruko-chan". Film ini memenangi Grand Prize di Japan Media Arts Festival 2005 dan Ofuji Noburo Award di Mainichi Film Awards 2004. "Kakurenbo" (2004) dari Morita Shuhei, yang kemudian dinominasikan Oscar untuk "Possessions" (2013) dan menyutradarai "Tokyo Ghoul" (2014), membangun basis penggemar berkat kombinasi 3D CG dengan rendering bergaya sel—perpaduan yang tidak biasa pada zamannya.
Dari jajaran baru, "Ghost – End of Night" datang dari Natsume Shingo, sutradara "One-Punch Man" (2015), dengan produksi Madhouse Inc. Film ini diputar di BIFF mendahului rencana rilis teatrikal di Jepang pada 2027. Katanosaka Ryo membawa "Shiranui", film pendek teatrikal berdurasi 36 menit yang diproduksi CoMix Wave Films—studio di balik banyak judul besar Shinkai Makoto. Katanosaka, yang baru pertama kali membuat film, menggambar sendiri hampir dua pertiga dari 325 potongan kasar film ini.
Dua karya lainnya telah menempuh perjalanan festival internasional. "We Are Aliens" karya Kadowaki Kohei menggunakan teknik rotoscope untuk menciptakan realisme visual yang khas. Film ini tampil di Directors' Fortnight Cannes dan berkompetisi di Festival Film Animasi Annecy tahun ini. Sementara "A New Dawn" dari Shinomiya Yoshitoshi mencatat sejarah sebagai film animasi Jepang pertama garapan sutradara pemula yang berkompetisi di Festival Film Internasional Berlin. Setelah premiere di Berlinale, film berdurasi 76 menit ini memenangi Jury Award di Annecy's Contrechamp section.
Kehadiran program ini di BIFF menegaskan posisi festival Korea sebagai salah satu panggung terpenting bagi animasi Asia. Dengan rentang 67 tahun sejarah—dari 1958 hingga karya-karya yang belum tayang—program ini bukan sekadar tontonan, melainkan pelajaran visual tentang bagaimana animasi Jepang tumbuh menjadi kekuatan global yang tak tertandingi.