Konflik AS-Iran Mereda, Harga Minyak Mentah Turun ke US$95 Per Barel

Penulis: Hendra Setiawan  •  Kamis, 03 September 2026 | 11:42:01 WIB
Petugas memantau pergerakan harga minyak mentah di layar monitor saat perdagangan dibuka di Bursa Berjangka Jakarta, Kamis (3/9).

BANTEN — Tanda-tanda de-eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi penekan utama harga minyak mentah pada perdagangan Kamis (3/9). Setelah sempat bergejolak di sesi sebelumnya, pasar kini mencoba mengkalkulasi ulang risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah pasca rentetan serangan militer terbaru kedua negara.

Harga minyak mentah Brent berjangka terkoreksi 43 sen atau 0,45 persen ke level US$95,20 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 24 sen atau 0,26 persen menjadi US$90,77 per barel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, kedua acuan harga ini sempat bergerak volatil dengan kisaran menguat hingga US$2 per barel dan melemah hingga US$1 per barel.

Selat Hormuz Mulai Normal?

Pelemahan harga terjadi setelah muncul indikasi awal bahwa eskalasi terbaru mulai mereda. Presiden AS Donald Trump menyatakan kampanye militer terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Trump mengklaim pasukannya telah berhasil menghancurkan sistem radar dan rudal Iran di sepanjang kawasan Selat Hormuz.

"Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, sebagian untuk pertahanan, sebagian untuk menyerang... Itu merupakan serangan yang sangat besar tadi malam, dan kami siap melakukan serangan berikutnya kapan pun kami mau," kata Trump, dikutip Kamis.

Namun, analis IG Tony Sycamore mengingatkan bahwa pemulihan arus minyak masih sangat bergantung pada perkembangan selanjutnya di lapangan.

"Jika kondisi mereda, meski hal itu masih sangat bergantung pada perkembangan berikutnya, arus minyak yang keluar melalui Selat Hormuz menggunakan kapal yang menyamarkan identitasnya (dark ships) serta transfer minyak antarkapal (ship-to-ship transfers) kemungkinan segera kembali ke level yang terlihat pada akhir pekan lalu," ujar Sycamore kepada Reuters.

Apa Artinya bagi Pasokan dan Investor?

Data awal perusahaan pelacak pelayaran Kpler pada Rabu menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz. Jumlah ini jauh di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang mencapai sekitar 13 kapal per hari.

Situasi ini kian diperparah dengan langkah Iran yang menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal tersebut terancam denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi selat tersebut. Selat Hormuz sendiri mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, menjadikannya titik paling rawan bagi keamanan energi global.

Di sisi lain, Washington melaporkan data yang kontras. AS menyebut 17 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin lalu. Angka tersebut diklaim sebagai volume minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak konflik AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Perang antara AS dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh ini menjadi baku tembak terbesar sejak Juli. Setiap serangan balasan yang menyasar fasilitas minyak atau kapal tanker di kawasan Teluk berpotensi memicu lonjakan harga yang signifikan.

Bagi pelaku pasar dan investor energi, volatilitas harga minyak dipastikan masih akan berlanjut sepanjang ketegangan geopolitik ini belum menemui titik final. Pergerakan harga saat ini mencerminkan ketidakpastian yang ekstrem, di mana data pasokan dari berbagai sumber saling bertolak belakang.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top