Tren Mendaki Gunung Gen Z Meningkat, Kasus Pendaki Pemula Tersesat Ikut Naik

Penulis: Hendra Setiawan  •  Senin, 28 September 2026 | 16:23:02 WIB
Pendaki melintasi jalur pegunungan di kawasan Lake District, Inggris.

BANTEN — Data Mountain Rescue England and Wales mencatat pendaki usia 18–24 tahun menyumbang 18 persen insiden penyelamatan sepanjang 2025, proporsi tertinggi dan lebih dari dua kali lipat dibanding 2019. Angka itu muncul saat konten pendakian makin ramai di media sosial dan minat anak muda terhadap aktivitas luar ruang terus tumbuh. Sejumlah kasus pendaki pemula tersesat di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat dalam dua pekan pada Juli memperlihatkan persiapan yang belum matang masih jadi titik lemah.

Popularitas mendaki gunung di kalangan Gen Z tidak lagi sekadar hobi komunitas pencinta alam. Aktivitas mencari udara segar dan melepas penat itu kini jadi pilihan gaya hidup, sekaligus bahan konten yang mudah menarik perhatian di platform digital.

Pepper Steps, kreator konten alam berusia 27 tahun asal California, rutin membagikan pengalaman menjelajah alam, mulai dari cara menyiapkan ransel hingga menghadapi kondisi tak terduga. Apa yang awalnya hobi berkembang menjadi pekerjaan penuh waktu.

Di sisi lain, lonjakan minat tersebut membawa beban baru bagi tim penyelamat. Pendaki muda yang tersesat, kehabisan tenaga, atau kewalahan menghadapi medan yang tidak sesuai perkiraan makin sering membutuhkan pertolongan.

Anak Muda Dominasi Insiden Penyelamatan

Dalam kurun dua pekan pada Juli, beberapa pendaki di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat harus dievakuasi setelah mengalami situasi berbahaya. Kasus-kasus itu memperlihatkan pola serupa: persiapan minim, perlengkapan terbatas, dan medan yang lebih berat dari bayangan.

Di Lake District, Inggris, seorang remaja 16 tahun ditemukan dalam kondisi basah dan berlumpur setelah terjatuh di kawasan rawa. Baterai ponselnya hampir habis, dan sisa daya itu dipakai untuk meminta bantuan.

Tiga remaja di British Columbia, Kanada, tersesat di hutan hingga mengalami dehidrasi dan salah satunya terluka. Mereka hanya mengandalkan beberapa lembar petunjuk Google Maps untuk melewati rute hampir 18 kilometer.

Kasus lain terjadi di Colorado. Seorang remaja 15 tahun yang mendaki sendirian tergelincir sekitar 60 meter di atas salju saat berusaha mengambil ranselnya yang terjatuh.

Aplikasi Navigasi Bukan Satu-satunya Acuan

Ketertarikan anak muda terhadap alam tidak selalu diikuti pengalaman yang cukup menghadapi kondisi lapangan. Kesenjangan itu membuat pendaki pemula lebih rentan ketika medan dan cuaca berubah di luar perkiraan.

Pemandu gunung Mike Trehearne menilai aplikasi navigasi tetap berguna selama tidak dijadikan satu-satunya acuan. Peta digital belum tentu menggambarkan perubahan cuaca, kondisi jalur, karakter medan, atau membantu mengambil keputusan saat keadaan berubah.

Media sosial ikut membentuk cara pendakian dipersepsikan. Jalur menantang bisa terlihat jauh lebih mudah lewat foto dan video singkat yang hanya menampilkan sebagian perjalanan. Paparan konten berulang membuat aktivitas ekstrem terasa biasa.

Trehearne menyebut sebagian pendaki datang dengan tujuan mengabadikan perjalanan untuk media sosial. Fokus pada konten berpotensi mengalihkan perhatian dari kondisi sekitar, padahal situasi di gunung bisa berubah cepat.

Bekal Wajib Sebelum Berangkat

  • Pelajari karakter jalur, termasuk tingkat kesulitan dan estimasi waktu tempuh.
  • Cek prakiraan cuaca sebelum berangkat dan siapkan rencana cadangan.
  • Bawa perlengkapan sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
  • Kuasai navigasi dasar; aplikasi digital hanya pendukung, bukan pengganti kemampuan membaca arah.
  • Pilih rute yang sesuai kemampuan, tidak harus langsung jalur ekstrem.

Pendaki pemula tidak perlu langsung menantang jalur berat. Rute dengan tingkat kesulitan yang sesuai kemampuan jadi langkah awal membangun jam terbang, sekaligus sarana mengenali batas fisik dan menentukan kapan harus melanjutkan atau kembali.

Mendaki gunung pada akhirnya bukan soal mencapai puncak atau menghasilkan foto untuk media sosial. Keselamatan perlu jadi pertimbangan sejak tahap perencanaan hingga perjalanan berakhir.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top