70.000 Bibit dari Rumpin Mulai Didistribusikan ke Tanah Ulayat Baduy Lebak Lewat 8 Pintu Masuk

Penulis: Jauhari Lubis  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 08:46:31 WIB
Bibit pohon diberangkatkan dari Pusat Persemaian Rumpin, Bogor, menuju kawasan adat Baduy, Lebak.

LEBAK — Gerakan Baduy Lestari mulai masuk tahap pelaksanaan dengan mendistribusikan 70.000 bibit pohon ke kawasan adat Baduy. Pengiriman dilakukan bertahap dari Pusat Persemaian Rumpin, Bogor, menuju delapan pintu masuk yang tersebar di sekitar Desa Kanekes.

Pola bertahap dipilih agar bibit bisa menjangkau kawasan sasaran secara terkoordinasi. Proses penerimaan dan penyebaran ke perkampungan masyarakat adat juga jadi lebih mudah diatur.

Tiga Pintu Masuk Jadi Sasaran Distribusi Pertama

Distribusi awal dijadwalkan lewat tiga pintu masuk. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, sebanyak 2.665 bibit diberangkatkan menuju Cipere dengan koordinator Ki Nana, Wakil Ketua Umum Perkumpulan Urang Banten (PUB) Bidang Penanggulangan Bencana.

Berikutnya, pada Minggu, 18 Oktober 2026, sebanyak 5.700 bibit didistribusikan melalui Monggor Kanas dengan koordinator Ki Yani, WKU PUB Bidang Budaya. Pada Senin, 19 Oktober 2026, sebanyak 9.250 bibit dijadwalkan menuju Cakuem dengan koordinator Ki Anang, WKU PUB Bidang Organisasi.

Lima pintu distribusi lainnya, yakni Ciboleger, Nangerang, Cicakal Girang, Binong, dan Cijahe, dijadwalkan menerima kiriman pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Jadwal itu sehari sebelum acara puncak Baduy Lestari.

Keberhasilan Diukur dari Pohon yang Tumbuh, Bukan Jumlah Bibit Terkirim

Pemberangkatan bibit dari Rumpin menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan. Namun, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang dikirim.

Yang menentukan justru bagaimana bibit ditanam, dipelihara, dan tumbuh menjadi pohon yang memberi manfaat bagi alam dan kehidupan masyarakat. Karena itu, semangat Baduy Lestari dibangun lewat tiga komitmen utama: menanam dengan tanggung jawab, merawat dengan kesungguhan, dan menjaga dengan kesadaran bersama.

Distribusi 70.000 bibit ini juga menjadi momentum memperkuat keterlibatan berbagai unsur. Mulai dari masyarakat adat, organisasi kemasyarakatan, relawan, hingga pemerintah dan elemen masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Pohon Dipilih Sesuai Kondisi Ekologi dan Ketentuan Adat

Masyarakat adat Baduy menempatkan alam sebagai bagian penting dari keberlangsungan hidup. Kearifan itu mengajarkan bahwa menjaga hutan, tanah, dan sumber air bukan semata kepentingan hari ini, melainkan amanah yang diteruskan ke generasi berikutnya.

Dalam konteks itu, Baduy Lestari diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau program sesaat. Gerakan ini perlu tumbuh berkelanjutan dengan menghormati tata nilai adat, memperhatikan kebutuhan ekologi setempat, serta melibatkan masyarakat adat di setiap tahapan.

Pemilihan jenis pohon, penentuan lokasi tanam, dan pemeliharaan bibit perlu diselaraskan dengan kondisi lingkungan serta ketentuan adat yang berlaku. Dengan begitu, upaya penghijauan memberi manfaat ekologis tanpa mengabaikan kearifan lokal dan hak masyarakat adat atas wilayahnya.

Sasieur Sabeunyeur dan Gotong Royong Warga

Baduy Lestari membawa pesan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Semangat Sasieur Sabeunyeur menjadi ajakan agar setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan, sekecil apa pun kontribusinya.

Gotong royong tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia bisa tumbuh dari kepedulian sederhana, kesediaan menyumbangkan sumber daya, membantu distribusi bibit, menanam pohon, hingga memastikan tanaman tetap hidup setelah kegiatan selesai.

Dari semangat itu, Baduy Lestari diharapkan menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan kepedulian sosial, pelestarian budaya, dan tanggung jawab ekologis dalam satu langkah nyata.

Puncak Baduy Lestari Digelar 25 Oktober 2026

Puncak kegiatan Baduy Lestari dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, di kawasan masyarakat adat Baduy, Kabupaten Lebak. Momentum itu diharapkan memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam sekaligus menghormati keberadaan masyarakat adat sebagai bagian identitas dan warisan budaya Banten.

Perjalanan 70.000 bibit dari persemaian menuju tanah ulayat Baduy mengandung pesan lebih besar daripada sekadar distribusi tanaman. Ada harapan yang dititipkan, ada kehidupan yang perlu dijaga, dan ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan bersama.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: persepsi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top