LEBAK — Puncak peringatan Hari Santri Nasional tingkat Provinsi Banten di Alun-alun Rangkasbitung dijadikan momentum kalangan pesantren menyuarakan sikap atas penggeledahan Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Sukoharjo. Pernyataan dibacakan langsung di hadapan Kapolda Banten Brigjen Pol Hendra Kurniawan, pimpinan pondok pesantren, ribuan santri, tokoh ulama, tokoh masyarakat, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banten.
Ada tiga sikap yang disampaikan para kiai dan santri. Ketiganya menyangkut persoalan penggeledahan pesantren dan hubungan pesantren dengan kepolisian.
Poin pertama, kiai dan santri Banten menolak stigmatisasi pesantren sebagai tempat berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Pesantren dinilai sebagai lembaga pendidikan yang sah, patriotik, cinta tanah air, serta berkomitmen menjaga keutuhan NKRI.
"Kami santri bersama para Kiai pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Banten mendukung Polri yang profesional, humanis dan mengayomi masyarakat dengan semangat Polri bersama masyarakat," kata KH Ihwan saat membacakan pernyataan sikap.
Poin kedua, mereka mendukung reformasi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto. Reformasi itu diminta tidak hanya berjalan di tingkat pusat, tetapi juga menyentuh jajaran Polda, Polres, hingga Polsek.
Para kiai dan santri juga menegaskan penyadapan serta penggeledahan harus dilakukan berdasarkan ketentuan hukum dan menghormati hak asasi manusia (HAM).
Poin ketiga, mereka mendorong penguatan kemitraan antara Polri dan pesantren. Kepolisian diharapkan dapat membangun hubungan yang baik dengan kalangan pesantren melalui bimbingan ulama dan kiai.
"Polri bersama santri dengan bimbingan ulama dan kiai pimpinan pondok pesantren saling menguatkan dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, dan mendukung asta cita demi Indonesia yang aman, adil, maju, dan berkeadaban dalam mempersiapkan Indonesia emas tahun 2045," ujarnya.
Dalam pernyataan yang sama, kiai dan santri menegaskan komitmen mendukung supremasi hukum, menjunjung HAM, dan memperjuangkan keadilan. Mereka juga menyatakan komitmen membangun masyarakat yang tertib serta menjaga persatuan bangsa dan kedaulatan negara.
"Kami yang terhimpun di forum silaturahim pondok pesantren FSPP Provinsi Banten dan lain-lain berkomitmen sami'na wa ato'na, mendengar dan taat dalam membangun masyarakat yang tertib, menjunjung tinggi supremasi hukum, HAM dan keadilan. Semboyan kami Polri bersama masyarakat, Polri bersama pesantren bersatu menjaga persatuan bangsa dan kedaulatan negara," katanya.
Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Banten tahun ini mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Kegiatan juga dimeriahkan penampilan Debus dan tari tradisional khas Banten.