PANDEGLANG — Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Penyesuaian ini merupakan yang pertama dalam beberapa waktu terakhir, merespons kenaikan harga minyak mentah dunia dan dinamika geopolitik global sejak awal 2026.
Kebijakan itu langsung berdampak ke kantong warga di Pandeglang. Salah satunya Nipal Sutiana yang mengaku baru mengetahui kenaikan itu pagi hari lewat aplikasi MyPertamina.
“Baru bangun tidur, pas buka HP kaget dapat pemberitahuan harga Pertamax naik. Naiknya tidak main-main sampai Rp3.950 per liter,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Lonjakan Harga Rp3.950, Pilihan Beralih ke Subsidi
Dengan selisih harga yang mencapai hampir Rp4.000 per liter, Nipal memutuskan meninggalkan Pertamax. Ia kini memilih Pertalite yang masih dibanderol Rp10.000 per liter.
“Biasanya pakai Pertamax, tapi kalau sudah naik begini ya pilih Pertalite. Harganya Rp10.000 per liter,” katanya.
Keputusan serupa diperkirakan terjadi di banyak titik SPBU di Pandeglang. Pertalite dan Biosolar merupakan BBM bersubsidi yang harganya tidak ikut naik.
BBN Non-Subsidi Lainnya Stabil
Selain Pertamax, Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Namun, jenis BBM non-subsidi lain tidak berubah: Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp24.800 per liter.
Adapun harga Pertalite dan Biosolar tetap masing-masing Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.
Penyesuaian Pertama Setelah Stagnasi Panjang
Dalam keterangan resminya, Pertamina Patra Niaga menyebut penyesuaian ini merupakan hasil evaluasi berkala. Lonjakan harga minyak mentah dunia serta nilai keekonomian pasar menjadi alasan utama.
Kenaikan ini juga menjadi penyesuaian pertama Pertamax setelah harganya relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir di tengah dinamika geopolitik global sejak awal 2026.
Di Pandeglang, dampak langsung terasa pada pola konsumsi BBM warga. Peralihan dari Pertamax ke Pertalite berpotensi meningkatkan tekanan pada kuota BBM subsidi yang selama ini sudah ketat.