BANTEN — Sejumlah pembeli batu bara asal Cina dikabarkan menunda pengiriman pada bulan ini. Head Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan penundaan ini berangkat dari belum jelasnya skema operasional DSI sebagai eksportir tunggal.
“Kami juga melihat penundaan pembelian batu bara ini bisa jadi diikuti oleh negara pembeli lainnya seperti India,” kata Andry kepada Katadata, Kamis (4/6).
Menurutnya, DSI tidak hanya menambah lapisan birokrasi, tetapi juga belum memberikan kepastian bagi eksportir dan pembeli. Ia menilai pemerintah harus segera menjelaskan mekanisme ini kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk kementerian terkait.
Andry menyebut sebelum DSI hadir, Cina sudah mulai mendiversifikasi pasokan batu bara ke Mongolia, Rusia, dan Australia. Tekanan harga batu bara Indonesia yang mendekati harga domestik Cina turut memperkuat langkah tersebut.
Eksistensi DSI tak hanya mengancam ekspor batu bara. Andry memperingatkan pembeli minyak sawit mentah (CPO) bisa melakukan hal serupa. “Bisa saja pembeli CPO menahan pembelian sampai aturan dan skemanya cukup jelas diberikan pemerintah,” ucapnya.
Indonesia bukan satu-satunya produsen CPO dunia. Negara pengimpor masih bisa beralih ke Malaysia, terutama karena Indonesia memasok CPO ke Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah, hingga Uni Eropa. Tekanan ini berpotensi menurunkan harga komoditas dan merugikan petani.
Penundaan pembelian batu bara dan CPO, jika berlarut, akan menghambat target pemerintah. Batu bara tercatat sebagai salah satu produk ekspor terbesar Indonesia dengan nilai sekitar US$ 24,48 miliar pada 2025. “Target Dana Bagi Hasil (DBH), PNBP, dan royalti kemungkinan tidak tercapai,” kata Andry.
Dampak lebih jauh bisa menekan pertumbuhan ekonomi akibat berkurangnya kegiatan ekspor, bahkan memicu defisit perdagangan.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai penundaan ini bukan berarti penolakan terhadap batu bara Indonesia. “Ini adalah respons pasar terhadap ketidakpastian kontrak, harga, dokumen, dan settlement,” ujarnya.
Ia menyoroti mekanisme harga yang rumit karena batu bara tidak homogen. Harga dipengaruhi kalori, sulfur, ash, moisture, lokasi tambang, jadwal pengapalan, hingga spesifikasi pembangkit. “Jika DSI meninjau harga tanpa formula yang jelas, buyer akan menghitung risiko baru,” katanya.
Peran trader selama ini membantu mencocokkan kualitas, volume, waktu kirim, dan skema pembayaran. Ketika tata niaga berubah tanpa penjelasan rinci, pembeli rasional memilih menunggu aturan teknis atau meminta diskon risiko.
Meski tak berarti penolakan total, Syafruddin mengingatkan dampaknya bisa besar mengingat Cina adalah pasar utama batu bara Indonesia.