LEBAK — Program budi daya ikan tematik sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di Kabupaten Lebak melibatkan 60 desa. Setiap desa mengelola 20 kolam dengan target panen 10 ton ikan per musim. Ikan yang dibudidayakan adalah lele dan nila, yang akan disuplai ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau program makan bergizi gratis.
Berdasarkan kalkulasi Dinas Perikanan, dengan harga ikan Rp20 ribu per kilogram, hasil panen 10 ton bernilai Rp200 juta per musim. "Kami berharap pembudi daya ikan tematik sistem RAS itu dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat desa," kata Kepala Dinas Perikanan Lebak Winda Triana di Lebak, Minggu.
Pemerintah daerah mengoptimalkan pembinaan dan bimbingan teknis agar para pembudi daya mampu memenuhi standar SPPG. Produksi ikan nantinya dikelola oleh koperasi desa/kelurahan merah putih (KDKMP) sebelum dipasok ke sejumlah SPPG.
Sistem RAS merupakan budi daya ikan secara intensif dengan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus menerus (resirkulasi). Teknologi ini menggunakan filter fisika dan biologi, sinar ultraviolet, serta oksigen generator untuk mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan ikan.
Selain itu, sistem ini mengurangi jumlah penggunaan air dan meningkatkan tingkat hidup populasi ikan. Winda menjelaskan, budi daya tematik itu mengembangkan lele dengan masa panen 40 hari dan nila tiga bulan.
Ikan hasil budi daya dipasok ke dapur SPPG sebagai bagian dari program makan bergizi gratis (MBG). Ikan memiliki kandungan protein, omega 3, dan gizi yang dapat meningkatkan kecerdasan manusia. "Kami meyakini usaha budi daya ikan tawar itu dipastikan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat," ujar Winda.
Dengan keterlibatan 60 desa dan target produksi massal, program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis perikanan di Banten. Koperasi desa berperan sebagai pengelola rantai pasok agar harga tetap stabil dan menguntungkan petani.