Nissan Leaf mencatatkan depresiasi harga tertinggi sebesar 63,1 persen setelah lima tahun pemakaian menurut studi terbaru iSeeCars. Fenomena anjloknya nilai jual mobil listrik ini menjadi peluang bagi konsumen yang mengincar kendaraan elektrifikasi dengan harga jauh lebih terjangkau.
Laporan terbaru dari iSeeCars.com mengungkap realitas pahit bagi pemilik mobil listrik, khususnya Nissan Leaf. Berdasarkan analisis terhadap lebih dari 950.000 transaksi mobil bekas berusia lima tahun dalam periode Maret 2025 hingga Februari 2026, Nissan Leaf dinobatkan sebagai kendaraan dengan tingkat penurunan nilai harga (depresiasi) paling ekstrem di pasar.
Mobil listrik ikonik dari Nissan ini kehilangan 63,1 persen nilainya dalam kurun waktu lima tahun sejak dibeli baru. Jika dikonversi ke dalam mata uang, pemilik Nissan Leaf rata-rata kehilangan nilai aset sebesar USD 17.743 atau sekitar Rp 284 juta (asumsi kurs Rp 16.000). Angka ini bahkan melampaui depresiasi mobil mewah yang biasanya dikenal cepat turun harganya seperti Tesla Model S maupun Range Rover.
Penurunan drastis pada Nissan Leaf keluaran 2021 bukan tanpa alasan. Faktor teknologi baterai dan jarak tempuh menjadi penyebab utama konsumen enggan melirik unit bekasnya dengan harga tinggi. Sebagai gambaran, Nissan Leaf 2021 varian standar hanya dibekali baterai 40 kWh yang sanggup menempuh jarak 149 mil (sekitar 240 km) dalam sekali pengisian daya.
Angka tersebut dianggap sangat minim untuk standar mobil listrik modern tahun 2026. Meski tersedia varian baterai lebih besar dengan jarak tempuh 226 mil (363 km), harga barunya saat itu melonjak signifikan, sehingga tetap tidak mampu menahan laju depresiasi yang masif di pasar sekunder.
Berikut adalah rincian performa teknis Nissan Leaf 2021 yang menjadi basis studi tersebut:
Depresiasi adalah pedang bermata dua. Bagi penjual, ini adalah kerugian besar, namun bagi pembeli, kondisi ini menciptakan peluang "screaming deal". Selain Nissan Leaf, studi iSeeCars mencatat tujuh model EV lain yang mengalami nasib serupa, termasuk Volkswagen ID.4, Ford Mustang Mach-E, hingga jajaran Tesla.
Menariknya, Tesla Model X justru menjadi mobil bekas yang paling cepat laku terjual pada Februari 2026 meskipun nilai depresiasinya tinggi. Konsumen saat ini bisa mendapatkan unit Tesla Model S, Model X, atau Kia Niro EV dengan potongan harga antara 60,8 persen hingga 63,1 persen dari harga barunya lima tahun lalu. Di tengah fluktuasi harga bahan bakar, beralih ke EV bekas berkualitas menjadi langkah finansial yang masuk akal.
Meski studi ini berbasis data pasar Amerika Serikat, tren serupa mulai membayangi pasar otomotif Indonesia. Kendala infrastruktur pengisian daya dan kekhawatiran akan degradasi baterai masih menjadi momok bagi calon pembeli mobil listrik bekas di tanah air. Namun, bagi pengguna komuter perkotaan yang memiliki akses home charging, fenomena depresiasi ini adalah berita baik.
Konsumen di Indonesia perlu jeli melihat masa garansi baterai yang biasanya diberikan pabrikan selama 8 tahun atau 160.000 km. Jika membeli unit bekas berusia 5 tahun seperti dalam studi ini, pengguna masih memiliki sisa proteksi baterai sekitar 3 tahun. Ini merupakan jaring pengaman krusial mengingat biaya penggantian modul baterai bisa mencapai setengah dari harga mobil itu sendiri.
Saat ini, produsen terus memperbaiki teknologi mereka. Nissan Leaf model 2026 diklaim telah membawa peningkatan signifikan yang menjawab kritik pada model-model sebelumnya. Ke depan, stabilitas harga EV bekas akan sangat bergantung pada standarisasi kesehatan baterai (State of Health) yang lebih transparan bagi calon pembeli.