78 Koperasi Desa Merah Putih di Lebak Sudah Beroperasi, Putar Uang Hingga Rp400 Juta Per Bulan dari Gula Aren

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Rabu, 20 Mei 2026 | 11:55:05 WIB
Koperasi Desa Merah Putih di Lebak telah mengelola usaha berbasis potensi desa secara mandiri.

LEBAK — Sebanyak 78 dari 344 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Lebak, Banten, kini sudah berjalan dan mengelola aneka usaha berbasis potensi desa. Salah satu koperasi di Desa Pondok Panjang bahkan mampu memutar uang hingga Rp400 juta per bulan dari produksi gula aren dan emping kaceprek.

Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong koperasi ini tumbuh dan berkembang. Tujuannya jelas: meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat pedesaan.

Bukan Sekadar Toko Sembako, Ada Klinik dan Cold Storage

KDMP yang beroperasi tidak hanya menjalankan satu unit usaha. Imam merinci, ada tujuh unit yang dibuka, mulai dari kantor koperasi, kios pengadaan sembako, hingga kios simpan pinjam. Fasilitas lainnya mencakup klinik kesehatan desa, apotek, sistem pergudangan atau cold storage, dan sarana logistik.

Produksi anggota UMKM yang ditampung di koperasi mayoritas adalah makanan camilan. Mulai dari keripik stik ubi, singkong, rempeyek ikan, stik bawang, pisang sale, kembang goyang, hingga roti dan kentang goreng. Ada juga produk dari hasil perkebunan seperti gula aren dan kaceprek dari pohon melinjo, serta olahan perikanan seperti bakso ikan, kerupuk, abon, dan bolu ikan.

Modal dari Anggota, Belum Tersentuh BUMN

Menariknya, seluruh KDMP yang beroperasi saat ini masih mandiri. Imam menegaskan, modal awal berasal dari dana simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. "Semua KDMP itu belum menerima penyertaan modal dari PT Agrinas Nusantara Pangan," katanya.

Artinya, perputaran uang di desa terjadi murni dari partisipasi warga sendiri. Setiap anggota yang juga pelaku UMKM bisa menitipkan produksinya di kios koperasi, sehingga uang tidak mengalir keluar desa.

Kisah Sukses Desa Pondok Panjang: Gula Aren dan Kaceprek Jadi Primadona

Salah satu contoh nyata adalah KDMP Desa Pondok Panjang. Ketua koperasi setempat, Aep Saepudin, mengungkapkan bahwa anggotanya mencapai 294 orang. Sebagian besar bergerak di produksi emping kaceprek, gula aren, sale pisang, dan bakso ikan.

Dari hasil bumi itu, perputaran uang di desa terbilang besar. "Produksi gula aren dari bahan baku pohon aren juga kaceprek dipasok ke sejumlah daerah di Banten hingga mampu menggulirkan perputaran uang Rp400 juta per bulan," kata Aep. Angka itu didapat dari kalkulasi harga Rp40 ribu per kilogram dengan produksi 10 ton per bulan.

Ke depan, pemerintah daerah berharap koperasi-koperasi lain di Lebak bisa menyusul. Dengan potensi lokal yang melimpah, setiap desa sebenarnya punya peluang untuk menggerakkan ekonomi warganya sendiri tanpa harus menunggu suntikan dana dari pusat.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top