Ritual Memandikan Perahu Leluhur Berusia Ratusan Tahun Jadi Magnet Festival Petjoen di Karawaci, Ribuan Pengunjung Padati Klenteng

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 17:43:31 WIB
Ritual memandikan perahu leluhur menjadi puncak Festival Budaya Petjoen di Klenteng Koet Goan Bio, Karawaci.

KOTA TANGERANG — Perahu keramat yang dipercaya telah berusia ratusan tahun kembali dibuka dan dimandikan dalam ritual tahunan Festival Budaya Petjoen di Klenteng Koet Goan Bio (Mpeh Peh Cun), Karawaci. Prosesi yang berlangsung pada Kamis (18/6) itu menjadi puncak perayaan yang dinanti ribuan warga dari berbagai daerah.

Air Kembang dan Kain Merah yang Dibagikan ke Pengunjung

Dalam prosesi tersebut, perahu leluhur dimandikan menggunakan air kembang yang telah didoakan oleh pemuka agama. Air bekas ritual dan kain merah yang digunakan dalam pemandian kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Wakil Ketua Panitia Festival Budaya Petjoen, Anto Tjiu Abaw, mengatakan benda-benda itu dipercaya membawa keberkahan, kesehatan, dan keselamatan bagi siapa pun yang memperolehnya. "Air dan kain merah itu kami bagikan karena dipercaya membawa berkah," ujarnya.

Tradisi Penghormatan untuk Qu Yuan

Anto menjelaskan, tradisi Peh Cun rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Qu Yuan (Koet Goan). Ritual ini menjadi pengingat sejarah kedatangan leluhur masyarakat Tionghoa yang masuk ke wilayah Tangerang melalui Sungai Cisadane.

"Perahu keramat ini merupakan peninggalan leluhur. Berdasarkan cerita turun-temurun, mereka datang melalui Sungai Cisadane," kata Anto. Ia menambahkan, tradisi ini selalu dinantikan bukan hanya warga sekitar, tetapi juga pengunjung dari Jakarta, Bogor, dan Cilegon.

Rangkaian Acara dan Harapan ke Depan

Festival Budaya Petjoen berlangsung selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Juni 2026. Selain ritual utama, panitia juga menyuguhkan pertunjukan musik gambang kromong, pembagian kue sangjit, dan bazar kuliner.

Panitia berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kota Tangerang. "Kami ingin tradisi ini menjadi milik bersama sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati kebersamaan sekaligus mengenal budaya Cina Benteng," pungkas Anto.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: radarbanten.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top