LEBAK — Warga pesisir di selatan Banten selama ini hidup dengan ancaman tsunami dan gelombang tinggi yang bisa datang tanpa peringatan. Namun, sebagian besar dari mereka belum pernah mendapat pelatihan tanggap darurat. Kondisi itulah yang mendorong Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di Desa Sukamanah.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu menghadirkan pemateri dari Basarnas Unit Siaga Lebak 1. Pada hari pertama, peserta mempelajari penilaian awal terhadap korban, teknik pertolongan pertama, hingga prosedur evakuasi. Sementara hari kedua difokuskan pada praktik water rescue di lapangan.
Peserta dilatih menyiapkan perahu karet dan mesin perahu, melakukan evakuasi menggunakan perahu bermesin maupun dayung, menggunakan kantong lempar, hingga teknik penyelamatan dengan berenang. Mereka juga belajar menangani korban setelah berhasil dievakuasi dari air.
Staf Mitigasi dan Diklat Bencana DMC Dompet Dhuafa, Sanadi Aji, mengatakan pelatihan ini diberikan karena masyarakat di wilayah rawan perlu memiliki kemampuan bertindak cepat. “Karena bencana bisa terjadi kapan saja,” ujar Sanadi.
Pemateri dari Basarnas, Indra Cahyadi, menambahkan bahwa kemampuan memberikan pertolongan pertama dan melakukan water rescue sangat penting bagi warga Desa Sukamanah. Wilayah ini berada di pesisir selatan yang memiliki potensi terdampak tsunami dan gelombang laut tinggi.
Salah satu peserta, Bai Malihah, mengaku pelatihan ini memberikan pengetahuan baru tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi keadaan darurat. Menurutnya, warga sebelumnya belum pernah mendapatkan pelatihan serupa.
Hal senada disampaikan peserta lainnya, Ocid. Ia mengatakan pelatihan itu meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir akan pentingnya memahami pertolongan pertama, penyelamatan di air, serta penanganan korban. Dengan begitu, warga bisa melakukan evakuasi secara mandiri apabila terjadi bencana.
Melalui kegiatan ini, DMC Dompet Dhuafa berharap masyarakat di wilayah rawan bencana memiliki kapasitas yang lebih baik dalam melakukan respons awal saat terjadi keadaan darurat. Tujuannya jelas: risiko korban bisa diminimalkan sebelum bantuan dari luar datang. Desa Sukamanah menjadi salah satu titik prioritas mengingat posisinya yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, jalur gempa megathrust yang kerap memicu tsunami.