Budayawan Lampung Urai Makna Prosesi Injak Kepala Kerbau yang Dijalani Jokowi

Penulis: Jauhari Lubis  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 22:43:31 WIB
Presiden Jokowi menjalani prosesi injak kepala kerbau dalam tradisi adat Lampung di Bandar Lampung.

BANTEN — Bandar Lampung, CNN Indonesia — Gelombang diskusi publik mengiringi momen Presiden Joko Widodo menginjak kepala kerbau saat menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6) pekan lalu. Bagi masyarakat Lampung, prosesi itu bukanlah hal baru, melainkan tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Admi Syarif, Budayawan Lampung yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), memberikan penjelasan rinci di Bandar Lampung, Selasa (30/6). Menurutnya, ritual injak kepala kerbau atau dalam bahasa Lampung disebut kiyak kulu kibau merupakan bagian integral dari upacara Begawi Cakak Pepadun.

Simbol Membuang Hawa Kebinatangan

"Prosesi ini biasanya dilakukan dalam upacara Begawi Cakak Pepadun dalam tradisi masyarakat Lampung. Cakak Pepadun merupakan prosesi sakral yang menandai seseorang memperoleh kedudukan adat tertinggi atau naik takhta sebagai penyimbang atau pemimpin adat," kata Admi.

Admi menjelaskan, tindakan menginjak kepala kerbau memiliki makna filosofis yang dalam. Bukan sekadar formalitas, gerakan itu diartikan sebagai upaya membersihkan sifat-sifat buruk manusia.

"Mungkin saya menebak-nebak sendiri... Saya menjustifikasi sendiri kenapa diinjak, mungkin orang Lampung menganggap bahwa hawa nafsu atau hawa kebinatangan itu harus dibuang. Harus diinjak," ujarnya.

Ia menambahkan, menginjak kepala kerbau dapat dimaknai sebagai simbol menghilangkan roh kebinatangan dari diri manusia. "Simbolik ya. Sekali lagi ini bukan suatu kepercayaan, bukan agama, tapi mungkin bisa kita maknai sebagai suatu simbol," katanya.

Mengapa Harus Kerbau, Bukan Kambing atau Ayam?

Pemilihan kerbau dalam ritual ini juga bukan tanpa alasan. Admi menjelaskan bahwa dalam budaya Lampung, kerbau menempati posisi istimewa. Hewan ini kerap menjadi ukuran dalam berbagai perhitungan adat dan penyelenggaraan pesta besar.

"Kerbau itu memang dianggap sebagai suatu binatang yang kuat, binatang yang besar, jadi kita ingin menunjukkan bahwa Lampung itu orang yang kuat dan orang yang besar," kata Admi.

Ia membandingkan dengan pilihan hewan lain. "Makanya kenapa tidak dipilih kambing. Kenapa tidak dipilih kepala ayam yang kita injak. Karena kita ingin menunjukkan bahwa orang Lampung itu tidak sembarangan," imbuhnya.

Menurut Admi, pada satu acara adat tertentu, seseorang memang ingin menunjukkan kebesaran dan kekuatan identitas Lampung melalui simbol kerbau.

Ritual Berusia Ratusan Tahun yang Kini Jadi Perdebatan

Admi mengaku heran dengan riuhnya perbincangan publik mengenai prosesi yang sudah berlangsung lama ini. "Ini sudah cukup lama, walaupun yang jadi masalah kenapa kok ketika ini jadi masalah," ujarnya.

Ia menekankan bahwa tradisi Mesol Kibau sudah dikenal sejak zaman buyutnya. "Saya ingat dari jaman buyut saya itu sudah motong kepala kerbau," katanya.

Meski demikian, Admi mengakui bahwa tidak semua marga atau kebuwayan di Lampung memiliki tradisi yang persis sama. "Lampung itu banyak marganya, banyak sukunya, banyak tata-titinya, sehingga ini menurut saya memang harus diselesaikan oleh marganya masing-masing," ujarnya.

Ia juga menyoroti aspek prosedural. "Kita juga tidak tahu sampai titik ini, apakah proses tata titi muakhi-nya ini sudah dilakukan dengan benar atau tidak," kata Admi.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top