SERANG — Co-Director Monash Data and Democracy Research Hub, Ika Idris, memaparkan temuan survei yang melibatkan 2.000 responden di 44 kota di Indonesia. Hasilnya, media yang telah mapan (well established media) menjadi sumber informasi paling dipercaya, disusul media institusi pemerintah dan penyiaran publik.
Ika mengungkapkan, semakin kritis sikap media terhadap kebijakan pemerintah, semakin tinggi tingkat kepercayaan publik kepada media tersebut. Temuan ini diperkuat data saat gelombang protes politik pada Agustus 2025, di mana media mapan tetap menjadi rujukan utama warga.
Sementara itu, media yang berafiliasi dengan pemerintah memperoleh tingkat kepercayaan sekitar 15 persen, terutama sebagai sumber informasi layanan publik seperti lalu lintas, pendidikan, dan kesehatan.
Di sisi lain, influencer berada pada posisi terbawah dalam tingkat kepercayaan publik. Sekitar 50 persen responden memberikan jawaban netral, yang menurut Ika menunjukkan masih adanya keraguan atau belum terbentuknya sikap yang jelas terhadap figur-figur tersebut.
Ika menjelaskan, dampak AI generatif terhadap penurunan trafik media berkisar antara 20 hingga 70 persen, dengan besaran berbeda pada setiap perusahaan. Media besar justru banyak yang terdampak, namun relatif lebih cepat beradaptasi karena memiliki sumber daya memadai.
"Media kecil umumnya menghadapi keterbatasan, baik dari sisi tim teknologi informasi maupun kemampuan mengelola data sehingga responsnya cenderung lebih lambat," katanya dalam kegiatan Banten Media Hub di Kota Serang, Selasa lalu.
Media yang berfokus pada pemberitaan umum menjadi segmen paling terdampak oleh kehadiran AI generatif.
Meski tingkat kepercayaan terhadap media mapan tergolong tinggi, Ika mengatakan kondisi tersebut belum mampu mendorong masyarakat untuk berlangganan layanan media digital. Fenomena ini berbeda dengan Amerika Serikat atau negara-negara Eropa Barat, di mana kepercayaan publik lebih mudah dikonversi menjadi pelanggan berbayar.
"Di Indonesia, masyarakat memang percaya kepada media yang sudah mapan, tetapi kepercayaan itu belum otomatis membuat mereka bersedia berlangganan," ujarnya.
Ika menilai, perlu ada edukasi kepada publik mengenai pentingnya mendukung keberlangsungan media berita yang kredibel, salah satunya melalui langganan berbayar. "Publik perlu diberi pemahaman bahwa jika mereka mempercayai media yang kredibel, maka dukungan terhadap keberlangsungan media tersebut juga penting," katanya.