BANTEN — Keputusan mengejutkan terjadi di laga penentuan Grup F Piala Dunia 2026, Kamis (25/6) dini hari WIB. Belgia yang butuh kemenangan untuk lolos otomatis, mendapat hadiah penalti pada menit ke-72 setelah handball pemain lawan di kotak terlarang.
Romelu Lukaku, yang sepanjang turnamen belum mencetak gol dari tiga peluang emas, justru menolak menjadi algojo. Ia memberikan bola kepada Youri Tielemans yang kemudian dengan tenang menaklukkan kiper lawan.
"Saya tidak dalam kondisi mental yang cukup kuat untuk mengambil penalti itu. Saya bicara dengan Tielemans dan dia bilang siap," aku Lukaku usai laga. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan di kalangan penggemar dan analis.
Di satu sisi, langkah Lukaku dinilai dewasa karena mengutamakan tim. Namun di sisi lain, kritik pedas datang dari legenda Belgia yang menilai striker 33 tahun itu seharusnya mengambil tanggung jawab sebagai ujung tombak.
Pelatih Belgia membela keputusannya: "Yang penting adalah tiga poin. Romelu cukup besar hati untuk mengakui kondisinya. Itu lebih baik daripada memaksakan diri lalu gagal."
Kemenangan 1-0 ini mengamankan posisi runner-up Grup F dengan 5 poin. Namun performa Lukaku yang masih mandul dan kini masalah mental menjadi pekerjaan rumah serius jelang babak 16 besar.
Statistik mencatat Belgia hanya melepaskan 4 tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Ketergantungan pada momen individu Tielemans menjadi alarm bagi skuad asuhan Domenico Tedesco.
Di babak gugur, Belgia akan menghadapi juara Grup E yang diperkuat pemain-pemain cepat. Tanpa ketajaman Lukaku dan kepercayaan diri yang pulih, jalan Setan Merah diprediksi berat.
Media sosial Belgia terbelah. Tagar #LukakuMental dan #TielemansHero sempat menjadi trending topic di Brussels. Sebagian fans memuji kejujuran Lukaku, sebagian lain menuntutnya dicadangkan.
"Ini bukan soal penalti. Ini soal pemain yang dibayar mahal untuk momen seperti ini," tulis akun @RedDevilsForever. Sementara akun @BelgiaFanatic membalas: "Lebih baik jujur daripada sok jagoan."
Langkah selanjutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah Lukaku bangkit atau justru semakin tenggelam dalam tekanan?