7 Festival Budaya Banten yang Sayang Dilewatkan, Lengkap dengan Jadwal dan Lokasi

Penulis: Hendra Setiawan  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 16:17:31 WIB
Festival Debus di Alun-Alun Serang menampilkan seni bela diri kebal senjata tajam setiap Agustus.

Serang, 2026 – Setiap tahun, masyarakat Banten menggelar festival budaya yang sudah berlangsung turun-temurun. Ritual ini bukan sekadar hiburan, melainkan napas identitas lokal yang terus dirawat. Dari pesisir hingga pegunungan, ada pengalaman yang hanya bisa ditemukan di sini.

Tujuh festival berikut dipilih berdasarkan keunikan, partisipasi warga, dan potensinya sebagai daya tarik wisata. Masing-masing punya jadwal tetap, lokasi spesifik, dan cerita yang jarang diungkap di brosur pariwisata.

1. Festival Debus – Seni Bela Diri Kebal Senjata Tajam

Festival Debus biasanya digelar di Alun-Alun Serang setiap bulan Agustus, bertepatan dengan peringatan kemerdekaan. Peserta menunjukkan kekebalan tubuh dengan menusuk lengan, memotong lidah, atau menyiram tubuh dengan air keras—tanpa luka sedikit pun.

Ritual ini berakar dari ajaran Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar yang menyebarkan Islam di Banten abad ke-17. Pengunjung bisa menyaksikan langsung pukul 09.00–16.00 WIB. Tiket masuk gratis, tapi siapkan Rp20.000–Rp30.000 untuk parkir kendaraan. Jangan coba-coba meniru atraksi ini di rumah.

2. Seba Baduy – Ritual Warga Adat ke Gubernur Banten

Seba Baduy adalah tradisi tahunan masyarakat Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar dari pedalaman Lebak. Ribuan warga berjalan kaki puluhan kilometer menuju Pendopo Gubernur Banten di Serang untuk menyerahkan hasil bumi seperti pisang, beras, dan madu hutan.

Ritual ini biasanya berlangsung antara April hingga Mei, tergantung musim panen. Sepanjang perjalanan, mereka tidak menggunakan alas kaki. Pengunjung bisa menyaksikan prosesi di sepanjang rute Jalan Raya Rangkasbitung–Serang. Tidak ada biaya masuk, tetapi disarankan membawa air minum sendiri karena cuaca panas.

3. Pasar Rakyat Ciomas – Festival Kuliner dan Kerajinan di Pandeglang

Setiap hari Minggu terakhir di bulan Oktober, Pasar Rakyat Ciomas di Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, dipadati ribuan pengunjung. Acara ini menampilkan 50–70 stan yang menjual makanan tradisional seperti lempuk durian, wajit, dan emping melinjo.

Selain belanja, ada pertunjukan seni lokal seperti pencak silat dan musik pantun. Harga makanan mulai Rp5.000–Rp25.000 per porsi. Lokasinya sekitar 30 menit dari Alun-Alun Pandeglang. Parkir motor Rp5.000, mobil Rp10.000.

4. Festival Layang-Layang Anyer – Kompetisi dan Wisata Pantai

Setiap Juli–Agustus, langit Pantai Anyer di Kecamatan Anyer, Serang, dipenuhi layang-layang raksasa berukuran 3–10 meter. Festival ini diikuti oleh komunitas dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara, termasuk Malaysia dan Thailand.

Pengunjung bisa membeli layang-layang di lokasi mulai Rp15.000–Rp50.000. Tiket masuk pantai Rp10.000 per orang. Waktu terbaik datang pukul 06.00–10.00 pagi karena angin laut masih stabil. Jangan lupa tabir surya dan topi.

5. Grebeg Maulid Cilegon – Perayaan Maulid Nabi dengan Gunungan

Grebeg Maulid diadakan setiap bulan Rabiul Awal di Masjid Agung Cilegon. Puluhan gunungan berisi hasil bumi—singkong, ubi, pisang, dan jajanan pasar—diarak dari kantor kecamatan menuju masjid. Setelah doa bersama, gunungan diperebutkan warga sebagai simbol berkah.

Acara ini dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Cilegon dan biasanya dimulai pukul 08.00 WIB. Tidak ada tiket masuk. Disarankan datang lebih awal karena jalan di sekitar masjid ditutup mulai pukul 06.30. Bawa tas kresek jika ingin membawa pulang hasil rebutan.

6. Festival Danau Tasikardi – Wisata Sejarah dan Budaya di Serang

Danau Tasikardi di Desa Margasari, Kecamatan Tirtayasa, Serang, adalah danau buatan peninggalan Kesultanan Banten abad ke-16. Setiap bulan September, festival ini menampilkan perahu hias, lomba dayung, dan pertunjukan seni di atas panggung apung.

Pengunjung bisa naik perahu keliling danau seharga Rp20.000 per orang. Lokasi ini berjarak sekitar 15 km dari Kota Serang. Tiket masuk Rp5.000. Jangan lewatkan jajanan khas seperti sate bandeng dan nasi sumsum di sekitar area parkir.

7. Festival Pesisir Tanjung Lesung – Konser dan Lomba Tradisional

Setiap Desember, Pantai Tanjung Lesung di Pandeglang menjadi tuan rumah festival pesisir yang menggabungkan konser musik, lomba perahu tradisional, dan bazar UMKM. Acara ini digagas oleh Badan Otorita Pariwisata Tanjung Lesung bersama pemerintah daerah.

Lomba perahu tradisional diikuti oleh 20–30 tim dari desa pesisir sekitar. Tiket masuk Rp15.000. Pengunjung bisa menginap di homestay mulai Rp250.000 per malam. Jika datang akhir pekan, siapkan waktu ekstra karena antrean kendaraan bisa mencapai 1–2 jam di gerbang masuk.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan festival budaya Banten paling banyak digelar?
Puncak festival biasanya terjadi antara Agustus hingga Desember, bertepatan dengan musim kemarau dan libur akhir tahun.

Apakah festival ini gratis untuk umum?
Sebagian besar festival tidak memungut tiket masuk, kecuali festival di kawasan wisata seperti Tanjung Lesung dan Anyer yang membebankan biaya parkir atau retribusi.

Bagaimana akses transportasi ke lokasi festival?
Semua lokasi bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum dari Kota Serang. Untuk Seba Baduy dan Ciomas, disarankan menggunakan mobil karena jalan beraspal namun sempit.

Apakah anak-anak boleh ikut serta?
Boleh. Hanya untuk Festival Debus, orang tua perlu mengawasi anak karena atraksi mengandung unsur kekerasan visual.

Kapan waktu terbaik datang ke Banten untuk wisata budaya?
Bulan September–November adalah waktu paling ideal karena cuaca cerah dan jadwal festival padat.

Banten bukan hanya destinasi pantai dan pegunungan. Festival budayanya menyimpan cerita yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Satu kunjungan ke ritual Seba Baduy atau Grebeg Maulid bisa mengubah cara Anda melihat Indonesia. Catat jadwalnya, ajak keluarga, dan rasakan sendiri.

Reporter: Hendra Setiawan
Back to top