TANGERANG — Upaya penataan kawasan kumuh di Kota Tangerang menunjukkan tren positif. Luas area yang semula tercatat 70 hektare pada awal tahun lalu, kini menyusut menjadi 50 hektare. Meski sebarannya bersifat sporadis dan terpecah dalam petak-petak kecil, Pemkot Tangerang optimistis target pengurangan di RPJMD bisa rampung tepat waktu.
Decky Priambodo menjelaskan bahwa kawasan kumuh di Kota Tangerang tergolong kategori ringan. Penataan dilakukan berdasarkan tujuh kriteria utama, mulai dari ketersediaan jalan lokal, sistem drainase, sanitasi, kondisi perumahan, hingga aspek keamanan kebakaran.
“Kawasan kumuh kita itu tidak terlalu parah. Jadi, intervensi sedikit langsung kelihatan keluar,” ujar Decky di Tangerang, Selasa lalu.
Penanganan kawasan kumuh tidak bisa dilakukan secara parsial. Decky menegaskan, kerja sama antarinstansi menjadi syarat mutlak agar intervensi tepat sasaran.
“Jadi memang di-sharing semuanya sama-sama. PU terkait dengan masalah jalannya dan drainasenya, nanti Perkim berkaitan masalah perumahannya, nanti PDAM berkaitan masa penyediaan air bersihnya, kan begitu,” jelasnya.
Kendala teknis muncul karena karakteristik kawasan kumuh di Kota Tangerang yang terpecah kecil-kecil dan tersebar di banyak titik. Kondisi ini membuat pemerintah provinsi sulit turun tangan.
“Kawasan kumuh kita itu kecil-kecil semua. Jadi, provinsi enggak bisa masuk karena sebarannya kecil-kecil dan tersebar banyak. Kita memang secara mandiri, ya mudah-mudahan kita intervensi,” tambah Decky.
Sejalan dengan penataan fisik kawasan, Pemkot Tangerang memprioritaskan pembenahan sanitasi melalui program Jamban Sehat. Program ini menyasar 300 hingga 400 unit setiap tahunnya.
“Sanitasi itu pada prinsipnya adalah bagaimana pengelolaan air kotornya. Kalau kita Perkim, masuknya ke dalam Jamban Sehat. Intervensinya kita Jamban Sehat,” papar Decky.
Lokasi prioritas program ini adalah wilayah yang juga menghadapi tantangan stunting dan Tuberkulosis (TBC). Koordinasi antardinas diperkuat di bawah arahan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) selaku integrator program.
“Jadi, kita target penanganan kawasan kumuh bisa running dengan baik,” pungkas Decky.