SERANG — Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Serang, Ahmad Muhibbin, mengungkapkan bahwa program normalisasi Sungai Ciujung Lama yang digarap BBWS C3 sekitar empat tahun lalu belum rampung. Masih ada sekitar lima kilometer aliran sungai yang membentang dari Desa Pegandokan, Kecamatan Lebakwangi, hingga Desa Kaserangan, Kecamatan Pontang, yang kondisinya belum dinormalisasi.
Menurut Muhibbin, kondisi ini menimbulkan dampak ganda bagi warga. "Karena akibat sedimentasi dan pendangkalan Sungai Ciujung Lama, ketika musim hujan sawah dan permukiman kebanjiran," jelasnya. Sebaliknya, saat musim kemarau tiba, air sulit mengalir ke sawah-sawah warga karena terhalang endapan lumpur.
Ia menekankan bahwa kelanjutan normalisasi ini berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak, terutama warga Kecamatan Pontang dan Lebakwangi yang mayoritas berprofesi sebagai petani. "Karena ini akan sangat bergantung pada produktivitas lahan pertanian di Serang Utara," ujarnya.
Muhibbin mendorong agar BBWS C3 tidak hanya melakukan normalisasi, tetapi juga revitalisasi di titik tersebut. "Dari Desa Pegandokan sampai Desa Kaserangan, panjangnya sekitar lima kilometer. Kita minta bukan hanya dilakukan normalisasi, tetapi juga dilakukan revitalisasi sehingga fungsi sungainya bisa kembali seperti dahulu kala," tegasnya.
Ia mengaku sudah berkomunikasi dan mengajukan permohonan kepada BBWS C3 agar pekerjaan ini segera direalisasikan. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak balai besar.
Selain untuk mengairi lahan pertanian, Sungai Ciujung Lama memiliki fungsi vital lainnya bagi masyarakat. Aliran sungai ini menjadi sumber air baku yang diolah oleh Perumda Tirta Al-Bantani untuk kemudian dialirkan kepada warga di sekitarnya.
Menanggapi desakan tersebut, Kabid Pelaksana Jaringan Sumber Daya Air pada BBWS C3, Agnes Yustikarini, menyatakan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan normalisasi di Sungai Ciujung pada tahun ini. "Yang ada hanya normalisasi untuk anak-anak sungainya saja," ujarnya singkat.