Bulog Lebak-Pandeglang Serap Gabah Petani 40.000 Ton Hingga Juni 2026, Lampaui Target 103 Persen

Penulis: Jauhari Lubis  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 19:12:01 WIB
Bulog Lebak-Pandeglang serap 40.000 ton gabah petani hingga Juni 2026, lampaui target 103 persen.

LEBAK — Kepala Cabang Perum Bulog Lebak-Pandeglang Muhammad Syaukani menyebutkan, penyerapan GKP sebanyak 40.000 ton itu setara dengan beras 20.000 ton. Capaian ini melampaui target yang sudah ditetapkan untuk tahun 2026.

"Penyerapan GKP petani mencapai sebanyak 40.000 ton atau setara beras 20.000 ton," kata Syaukani di Lebak, Banten, Jumat.

Syaukani menjelaskan, Perum Bulog mendapat penugasan dari pemerintah untuk pengadaan gabah dan beras guna memperkuat cadangan pangan nasional. Tujuan utamanya menjaga stabilitas harga pangan di pasar dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Panen Masih Berlangsung di Wilayah Selatan

Meski sudah memasuki musim kemarau, panen di wilayah kerja Bulog Lebak-Pandeglang masih berlangsung. Sentra produksi pangan tersebar di wilayah selatan seperti Malingping, Wanasalam, Panimbang, Cikeusik, dan Cibaliung.

"Kami terus melakukan serapan gabah sebanyak-banyaknya untuk mendukung ketersediaan beras nasional 4 juta ton," ujar Syaukani.

Perputaran Uang Capai Rp300 Miliar

Penyerapan gabah dilakukan dengan harga Rp6.500 per kilogram. Dengan volume 40.000 ton, ditambah biaya transportasi dari sawah ke penggilingan dan biaya pengelolaan, diperkirakan menyumbang perputaran uang sebesar Rp300 miliar di daerah.

Gabah yang diserap akan dijadikan stok cadangan beras pemerintah (CBP). Stok ini digunakan untuk memenuhi berbagai penugasan, antara lain Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, serta penanganan bencana.

Pengadaan Berlanjut Hingga Akhir 2026

Syaukani menegaskan, pengadaan gabah tidak berhenti meski target tahunan sudah terlampaui. Proses serapan akan terus berlangsung hingga akhir 2026.

Untuk mengoptimalkan penyerapan, Bulog terus melakukan sosialisasi dan memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak. Mitra strategis yang dilibatkan meliputi gabungan kelompok tani (gapoktan), Babinsa, penyuluh pertanian, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, serta pemerintah setempat.

"Kami melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani itu, nantinya dijadikan stok cadangan beras pemerintah untuk mendukung program bantuan yang digulirkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada akhir Juli hingga Desember 2026," pungkas Syaukani.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top