LEBAK — Perum Bulog Cabang Lebak dan Pandeglang mencatatkan stok beras melimpah hingga 25.000 ton, menjadikan dua daerah di Banten itu relatif aman dari gejolak pasokan pangan. Kepala Bulog Cabang Lebak dan Pandeglang Muhammad Syaukani menyebutkan angka tersebut berasal dari serapan gabah petani yang terus dioptimalkan.
"Kita hingga kini masih melakukan penyerapan gabah di sejumlah daerah yang memasuki musim panen," kata Syaukani di Lebak, Banten, Minggu.
Syaukani menjelaskan, penyerapan gabah kering pungut (GKP) dari petani hingga Juni 2026 mencapai 40.000 ton. Realisasi itu setara 103 persen dari target awal sebesar 37.500 ton.
Kualitas beras petani Lebak dan Pandeglang disebut cukup baik sehingga menjadi rebutan pedagang besar dari Jakarta dan Jawa Barat. Pemasokan dari petani lokal juga membuat dua kabupaten ini mampu berswasembada pangan tanpa impor.
Stok beras Bulog akan digunakan untuk dua program utama. Pertama, pendistribusian bantuan pangan yang digulirkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai akhir Juli hingga Desember 2026. Kedua, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual ke toko, pasar tradisional, hingga Gerakan Pangan Murah (GPM).
Beras SPHP dari Bulog bisa diperoleh dengan sejumlah persyaratan, antara lain KTP, NPWP, NIB, serta toko yang dilengkapi visual. Jalur distribusi mencakup instansi TNI, Polri, Dinas Ketahanan Pangan (DKP), dan Rumah Pangan Kita (RPK).
Syaukani memastikan persediaan beras tetap aman meski tengah menghadapi musim kemarau atau fenomena El Nino. Sejumlah daerah di Lebak dan Pandeglang masih memasuki masa panen sehingga pasokan terus mengalir.
"Kami menjamin persediaan beras melimpah dan relatif aman untuk kebutuhan konsumsi masyarakat," ujarnya.
Pihak Bulog berkomitmen mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras hingga akhir tahun untuk menjaga stok tetap di level aman. Langkah ini sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang akhir tahun.