LEBAK — Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Lebak, Abeng (60), masih ingat betul bagaimana setiap musim tanam kedua selalu diwarnai ketegangan. Sejak 1980, petani di wilayah Bendung Cikoncang Ketapang kerap berselisih lantaran pasokan air irigasi yang terbatas. "Kalau dulu setiap musim tanam kedua selalu ribut soal air. Yang tidak kebagian air marah, yang kebagian juga khawatir. Itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an," ujarnya di Desa Bolang, Kecamatan Malingping, Rabu (8/7/2026).
Kondisi itu kini berubah drastis. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi, pemerintah pusat dan daerah bergerak bersama. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian mengerjakan rehabilitasi jaringan utama DI Cisiih, Cibinuangeun, dan Cibanten dengan kontrak Rp 136,21 miliar yang dimenangkan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Proyek ini tidak sekadar memperbaiki saluran. Sepanjang 26,86 kilometer jaringan irigasi utama direhabilitasi total, ditambah pembangunan jalan inspeksi sepanjang 14,17 kilometer. Jalan inspeksi itu multifungsi: selain memudahkan operasi dan pemeliharaan saluran, akses petani menuju lahan jadi lebih mulus. Abeng mengakui ongkos angkut gabah yang dulu Rp 25.000-Rp 30.000 per kuintal karena jalan becek kini bisa ditekan.
Secara keseluruhan, lahan persawahan seluas 3.094 hektare di Kabupaten Lebak kini mendapat pasokan air yang lebih andal. "Perubahan ini nyata. Konflik rebutan air hampir tidak ada lagi," kata Abeng.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten Arlan Marzan menjelaskan, komitmen Gubernur Andra Soni adalah membangun dari desa. APBD 2025 dialokasikan Rp 48,91 miliar untuk tujuh paket rehabilitasi daerah irigasi, mencakup DI Cibinuangeun, Cilampe, Cikoncang, Cilemer, Cipari-Ciwuni, Cisangu Atas, dan Cisata. Sementara itu, APBN 2025 mengucurkan Rp 521,28 miliar untuk 12 daerah irigasi di Banten.
Pada 2026, Pemprov Banten kembali mengalokasikan Rp 24,30 miliar untuk pembangunan Bendung Irigasi Cisiih dan normalisasi irigasi di Desa Pangkalan, Teluknaga. Pemerintah pusat melalui APBN 2026 menambah Rp 390,70 miliar untuk melanjutkan rehabilitasi sembilan daerah irigasi. "Sinergi dengan pemerintah pusat melalui APBN membuat cakupan pembangunan menjadi lebih luas sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh petani," ujar Arlan.
Jika ditotal, investasi pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi di Provinsi Banten sepanjang 2025-2026 mencapai sekitar Rp 985,19 miliar. Rinciannya, Rp 911,98 miliar dari APBN dan Rp 73,21 miliar dari APBD Provinsi Banten.
Abeng berharap perbaikan ini berkelanjutan. "Kami hanya ingin air terus mengalir. Kalau irigasi bagus, panen naik, hidup petani juga naik," katanya.