BANTEN — Proyeksi S&P Global Ratings tersebut menjadi sinyal waspada bagi pelaku pasar, terutama importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Meski bukan skenario dasar, angka Rp 17.700 per dolar AS berada di atas asumsi APBN 2025 yang dipatok di kisaran Rp 16.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan berasal dari dua sumber utama. Pertama, sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang cenderung menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan pasar. Kedua, ketidakpastian global yang masih tinggi akibat perlambatan ekonomi China dan ketegangan geopolitik.
Kondisi ini mendorong aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Bloomberg menunjukkan, sepanjang tahun ini rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% terhadap dolar AS.
Bagi pelaku bisnis, pelemahan rupiah ke level Rp 17.700 akan langsung membengkakkan biaya impor bahan baku dan mesin. Perusahaan di sektor manufaktur, farmasi, dan teknologi yang bergantung pada komponen impor menjadi yang paling terpukul. Sementara itu, emiten tambang dan perkebunan yang pendapatannya dalam dolar AS justru diuntungkan.
Investor ritel yang memegang aset dolar AS, seperti Dolar AS fisik atau instrumen berbasis USD, justru diuntungkan secara nilai nominal. Namun, risiko tetap ada jika Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi agresif untuk menahan pelemahan.
Bank Indonesia sejauh ini konsisten mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan pihaknya akan terus melakukan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menekan volatilitas.
Proyeksi S&P Global Ratings ini bukan satu-satunya. Sejumlah analis dari bank investasi global juga memperkirakan rupiah masih akan tertekan setidaknya hingga semester II-2025, seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang molor.
Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor berdasarkan profil risiko masing-masing.