25 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Masuk Zona Rawan Kebakaran dan Kekeringan, BPBD Siagakan Armada Air Bersih

Penulis: Hendra Setiawan  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 12:16:31 WIB
BPBD Kabupaten Tangerang mencatat 25 kecamatan masuk zona rawan kebakaran dan kekeringan selama musim kemarau.

TANGERANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat 25 kecamatan di wilayahnya masuk kategori rawan kebakaran dan kekeringan selama musim kemarau. Ancaman ini meliputi kebakaran lahan ilalang, gedung, hingga lapak limbah yang dikelola pengusaha setempat.

"Sekitar 25 kecamatan potensi kebakaran, baik lahan ilalang, gedung, maupun lapak limbah-limbah yang dikoordinir oleh pengusaha limbah," kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik, Selasa (14/7/2026).

Kawasan Industri dan Pergudangan Jadi Titik Rawan

Berdasarkan pemetaan dari riwayat kejadian kebakaran, sejumlah kecamatan dengan konsentrasi industri dan pergudangan menjadi prioritas utama pengawasan. Achmad Taufik menyebut Kosambi, Teluknaga, Curug, Tigaraksa, dan Cikupa sebagai wilayah dengan risiko tinggi.

"Terutama wilayah-wilayah industri dan pergudangan, serta wilayah yang banyak limbah, di antaranya di Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, Tigaraksa. Itu wilayah-wilayah industri rawan kebakaran," tuturnya.

Krisis Air Bersih Mulai Terjadi di Curug

Selain kebakaran, kemarau ekstrem yang diprediksi sebagai fenomena El Nino Godzilla juga memicu kekeringan di sejumlah titik. Hingga saat ini, baru Kecamatan Curug yang secara resmi melaporkan krisis air bersih dan telah mendapatkan penanganan.

"Yang kelihatan saat ini kekurangan air bersih itu baru di Kecamatan Curug dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah itu. Kita selalu stay petugas-petugas kita dengan armadanya," ujar Achmad Taufik.

Sinergi Lintas Instansi untuk Suplai Air

BPBD Kabupaten Tangerang memastikan akan memperkuat koordinasi dengan PDAM dan Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim) untuk mengoptimalkan penyaluran bantuan air bersih. Langkah ini dilakukan sesuai kewenangan masing-masing instansi.

"Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kemudian koordinasi dengan PDAM dan Perkim. Jadi bukan BPBD sendiri, ada PDAM dan Perkim untuk suplai air apabila tidak bisa ditangani sendiri oleh BPBD," ungkap dia.

Puncak Kemarau Diprediksi hingga September 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk mengantisipasi ketersediaan air, kondisi kesehatan, dan kebutuhan multisektor lainnya.

Pada Juli 2026, puncak kemarau meliputi 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 369 ZOM (48,84 persen) akan memasuki puncak kemarau pada Agustus, dan 169 ZOM (25,41 persen) pada September. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top