TANGERANG — Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyebut model kolaborasi antara Grab, OVO, dan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa di SKhN 1 Kabupaten Tangerang sebagai contoh konkret pengurangan ketergantungan pembiayaan negara untuk program prioritas nasional.
"Program Makan Bergizi Gratis ini dibiayai murni oleh CSR perusahaan, bukan dari APBN. Kami berharap model kolaborasi seperti ini dapat menjadi benchmark nasional dalam mendukung pelaksanaan Program MBG," kata Ivan di Tangerang, Kamis.
Ivan menjelaskan, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan kepedulian tanpa harus menunggu alokasi anggaran pemerintah pusat. Ia menekankan bahwa program ini sekaligus memuliakan anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki potensi dan kemampuan setara dengan anak lainnya.
"Kita harus memuliakan saudara-saudara kita yang luar biasa. Mereka memiliki kemampuan dan potensi yang harus terus kita dukung," ujarnya.
Menurut Ivan, program MBG di SKhN 1 Tangerang merupakan bentuk nyata bela negara sekaligus langkah membangun Indonesia yang lebih inklusif. Ia memastikan PPATK siap bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan seluruh mitra untuk memperluas jangkauan program serupa.
"PPATK siap terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan seluruh mitra untuk memperluas gerakan kepedulian ini," kata dia.
Ketua Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, Cahaya Mantovani, menyampaikan apresiasi kepada PPATK dan para donatur. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang berbeda, sehingga lingkungan inklusif menjadi tanggung jawab bersama.
"Kami berkomitmen menjalankan program ini secara berkelanjutan sebagai dukungan terhadap program prioritas Presiden Prabowo Subianto," ujar Cahaya.
Ia berharap semakin banyak pihak terlibat membangun ekosistem inklusif, sehingga stigma negatif terhadap anak-anak berkebutuhan khusus bisa dihapuskan. "Program MBG berbasis CSR ini menjadi bentuk kasih sayang sekaligus investasi masa depan bagi anak-anak berkebutuhan khusus," ujar dia lagi.