BANTEN — Keputusan Australian Classification Board ini bukan soal kekerasan atau adegan pembunuhan yang menjadi ciri khas waralaba Halloween. Illfonic, sang pengembang, justru menyebut keberadaan zat terlarang sebagai penyebab utama game horor tersebut ditolak klasifikasi.
"Penolakan ini bukan didasarkan pada kehadiran slasher ikonik, Michael Myers, atau pembunuhan luar biasa yang bisa dilakukan di dalam game, melainkan keberadaan zat terlarang," tulis Illfonic melalui media sosial, dikutip IGN.
Pernyataan Illfonic itu mereduksi masalah. Aturan klasifikasi Australia sebenarnya tidak melarang penggambaran penggunaan narkoba secara mentah-mentah. Konten dampak kuat dari penggunaan narkoba masih bisa ditoleransi di rating MA15+, sedangkan dampak intens bisa masuk kategori R18+.
Masalahnya, panduan klasifikasi Australia secara spesifik melarang adanya insentif atau imbalan yang dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang. Di Halloween: The Game, pemain bisa merokok ganja sebagai mekanik yang memberi hadiah berupa ping lokasi Michael Myers di peta. Ini yang membuat game tersebut masuk kategori Refused Classification (RC).
Perbandingannya jelas terlihat di game lain. Grand Theft Auto V dan Far Cry 3 sama-sama menampilkan penggunaan ganja, tapi tidak ada sistem reward yang mengikat, sehingga keduanya lolos rating di Australia tanpa masalah berarti.
Juru bicara Classification Board menegaskan aturan ini bersifat mutlak. "Game yang mengandung penggunaan narkoba terkait insentif atau imbalan tidak dapat ditampung dalam kategori R18+ dan harus ditolak klasifikasinya," ujarnya kepada IGN.
Yang menarik, Illfonic sebenarnya punya banyak jalan keluar. Sejarah industri game Australia mencatat beberapa pengembang berhasil mengakali aturan ini dengan perubahan kecil. State of Decay pada 2013 sempat ditolak karena obat-obatan terlarang memberi buff kesehatan, tapi versi