BANTEN — Subaru resmi memperkenalkan Uncharted sebagai jembatan antara mobil konvensional dan kendaraan listrik penuh. Alih-alih memaksa penggunanya beradaptasi dengan teknologi asing, mobil ini justru dirancang agar terasa akrab sejak pertama kali dikendarai—sebuah pendekatan yang jarang ditemui di segmen EV entry-level.
Model ini adalah versi ringkas dari Solterra dengan garis atap lebih landai dan jarak sumbu roda lebih pendek. Subaru memasarkan tiga varian sekaligus: FWD 221 dk, AWD 338 dk, dan GT AWD yang diuji The Drive. Harga mulai USD 36.445 atau sekitar Rp 583 juta sebelum pajak, sementara varian GT yang lebih sporty dipatok USD 45.720.
Semua varian Uncharted mengandalkan baterai berkapasitas 74,7 kWh. Pada konfigurasi FWD, mobil ini diklaim mampu menempuh 308 mil dalam sekali pengisian—angka yang cukup kompetitif di kelasnya. Varian AWD standar turun ke 287 mil, sedangkan GT dengan pelek 20 inci hanya menjanjikan 273 mil.
Dari sisi pengisian daya, Uncharted mendukung Level 2 hingga 11 kW dan DC fast charging 150 kW melalui port NACS. Ini peningkatan signifikan dibanding Solterra pra-facelift yang hanya 7,6 kW untuk AC.
Varian GT yang diuji menawarkan akselerasi 0-60 mph dalam 4,7 detik—hampir satu detik lebih cepat dari WRX. Namun bobot 4.480 pon membuatnya terasa berat saat diajak bermanuver di tikungan. Body roll cukup terasa, meski setirnya responsif dan kabinnya senyap.
Yang menarik, Subaru justru tidak menjual Uncharted versi AWD sebagai varian dasar. Sebaliknya, Toyota C-HR yang merupakan saudara kembarnya justru hanya tersedia dengan dual-motor. Strategi ini membuka segmen FWD yang lebih terjangkau bagi konsumen yang tidak membutuhkan traksi ekstra.
Interior Uncharted masih menjadi titik terlemah. Layar sentuh 12,3 inci yang mengadopsi sistem Toyota sering kali lambat merespons, bahkan font di navigasi bawaan gagal dimuat sesekali. Hampir semua pengaturan iklim bergantung pada layar, meski ada dua dial fisik untuk suhu dual-zone.
Subaru juga menyediakan dua wireless charger di konsol tengah, tetapi keduanya lambat dan tidak bisa menahan ponsel pada tempatnya. Padahal, teknologi Qi 2 dengan magnet terintegrasi sudah tersedia di kompetitor seperti Nissan.
Fitur yang paling patut diacungi jempol adalah paddle regeneratif di belakang setir. Pengemudi bisa mengatur kekuatan pengereman regeneratif tanpa menyentuh layar—sesuatu yang sangat membantu dalam lalu lintas padat. Mode one-pedal memang tidak tersedia, tetapi kontrol yang ditawarkan paddle ini terasa lebih presisi.
Efisiensi juga menjadi keunggulan. Selama seminggu pengujian, GT AWD ini rata-rata mencatat 4 mi/kWh tanpa usaha ekstra. Angka tersebut setara dengan Chevy Bolt terbaru, meski kalah dari Hyundai Ioniq 5 yang mampu mengisi daya hingga 350 kW.
Subaru Uncharted bukan EV terbaik dari segi nilai, tetapi ia membuktikan bahwa mobil listrik tidak harus rumit untuk terasa menyenangkan. Dengan harga dasar yang kompetitif dan karakter berkendara yang akrab, mobil ini layak masuk daftar pertimbangan—terutama bagi mereka yang ingin transisi ke EV tanpa kehilangan nuansa mobil konvensional.