Kekeringan El Niño Surutkan Bendungan Karian Lebak, Kampung Somang dan Masjid Al Mujahidin Muncul Kembali

Penulis: Hendra Setiawan  •  Senin, 02 November 2026 | 11:17:01 WIB
Penyusutan air Bendungan Karian menyingkap deretan rumah warga yang sebagian besar hanya menyisakan dinding tanpa atap.

LEBAK — Penyusutan air Bendungan Karian menyingkap deretan rumah warga yang sebagian besar hanya menyisakan dinding tanpa atap. Bangunan di kawasan bekas permukiman itu mulai terlihat sejak Juli 2026, ketika penurunan muka air bendungan makin dalam.

Warga mulai meninggalkan Kampung Somang sejak 2023 untuk proses penggenangan waduk. Bangunan-bangunan di kawasan tersebut tidak seluruhnya dihancurkan sebelum air naik.

Masjid Al Mujahidin Berdiri Utuh di Antara Rumah yang Tinggal Dinding

Di antara sisa bangunan, Masjid Al Mujahidin masih tegak dengan kubah biru dan menaranya. Bangunan itu menyimpan nilai sejarah bagi masyarakat setempat.

Maman, mantan warga yang pernah tinggal di samping masjid, menyebut bangunan tersebut didirikan sejak masa kolonial Belanda dan direnovasi sekitar 15 tahun lalu.

Kawasan Kampung Somang sebelumnya pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film horor berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim pada akhir 2024 hingga awal 2025. Saat produksi berlangsung, sebagian rumah warga sudah mulai terendam air bendungan.

Bendungan Karian: Kapasitas 315 Juta Meter Kubik, Anggaran Rp 2,2 Triliun

Bendungan Karian diresmikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Januari 2024 setelah pembangunannya dimulai sejak 2015. Proyek Strategis Nasional (PSN) itu menelan anggaran sekitar Rp 2,2 triliun.

Waduk berkapasitas tampung 315 juta meter kubik dengan luas genangan 1.773 hektare dibangun untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

13.017 Makam hingga 29 Tapak Menara PLN Direlokasi

Dalam proses pembangunannya, pemerintah membebaskan lahan seluas 2.266,44 hektare. Proyek tersebut juga mengharuskan pemindahan 37 fasilitas umum, termasuk sekolah, masjid, madrasah, musala, kantor desa, dan posyandu.

Sebanyak 13.017 makam dari 54 lokasi pemakaman umum dan makam keramat turut direlokasi, bersama 29 tapak menara PLN serta sejumlah lahan milik pemerintah.

Kemunculan kembali kampung-kampung di dasar bendungan bergantung pada kondisi curah hujan. Selama kemarau panjang berlanjut, sisa permukiman itu tetap bisa dilihat dari daratan sekitar waduk.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: kbknews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top