SERANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melaporkan performa ekonomi daerah pada awal tahun 2026 menunjukkan tren positif. Meski ekonomi global masih dinamis, Banten mampu mencatatkan pertumbuhan tahunan (year-on-year) yang kompetitif, dengan industri manufaktur tetap memegang kendali sebagai motor penggerak utama.
Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa struktur ekonomi Tanah Jawara saat ini masih sangat bergantung pada empat sektor strategis. Selain industri pengolahan, sektor perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan secara akumulatif menyumbang lebih dari 70 persen terhadap total ekonomi daerah.
"Struktur ekonomi Banten masih bertumpu pada industri pengolahan, diikuti perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan," kata Yusniar melalui keterangan resminya di Serang, Selasa (12/5/2026).
Panen Raya Dongkrak Sektor Pertanian Hingga 17 Persen
Meskipun industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar secara volume, kejutan pertumbuhan justru datang dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. BPS mencatat sektor ini melonjak tajam hingga 17,88 persen pada awal tahun ini.
Kenaikan signifikan tersebut dipicu oleh momentum musim panen raya yang terjadi merata di sejumlah wilayah lumbung pangan Banten. Selain pertanian, geliat ekonomi juga terasa kuat di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 15,29 persen, serta sektor transportasi yang naik 13,84 persen seiring tingginya mobilitas warga.
Khusus untuk industri pengolahan, sektor ini tercatat menyokong 30,02 persen dari total struktur ekonomi Banten. Angka ini menegaskan posisi Banten sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di Indonesia yang tetap stabil di tengah fluktuasi pasar.
Angka Pengangguran Turun ke Level 6,59 Persen
Pertumbuhan ekonomi yang impresif ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Hingga Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja di Banten mencapai 5,83 juta orang. Kondisi ini diikuti dengan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 6,59 persen.
Sektor perdagangan dan industri manufaktur tetap menjadi penyerap tenaga kerja paling dominan. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap lapangan kerja di pabrik dan sektor retail masih sangat tinggi.
"Sektor perdagangan dan industri tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Banten, mencerminkan ketergantungan struktur ekonomi dan lapangan kerja pada sektor-sektor tersebut," ujar Yusniar menjelaskan korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan pasar kerja.
Waspadai Pergeseran Pekerja ke Sektor Informal
Di balik angka pertumbuhan yang melampaui nasional, BPS memberikan catatan kritis mengenai kualitas pekerjaan di Banten. Terdapat indikasi penurunan proporsi pekerja formal sebesar 1,18 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Saat ini, proporsi pekerja formal di Banten berada di angka 52,19 persen. Penurunan ini mengindikasikan adanya pergeseran sebagian tenaga kerja ke sektor informal, yang biasanya memiliki jaminan sosial dan stabilitas pendapatan yang lebih rendah dibandingkan sektor formal.
Yusniar menekankan pentingnya bagi pemerintah daerah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya sekadar angka, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan secara merata. "Ke depan, upaya peningkatan kualitas pekerjaan dan perluasan sektor formal tetap menjadi fokus utama agar pertumbuhan ekonomi yang ditopang industri dan pertanian ini semakin inklusif," pungkasnya.