SERANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten memastikan kondisi ekonomi masyarakat di Tanah Jawara masih dalam koridor positif pada awal tahun 2026. Hal ini terlihat dari indikator perbankan yang menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh meski diterpa isu pelemahan daya beli.
Kepala Perwakilan BI Banten Ameriza M. Moesa mengungkapkan, pertumbuhan DPK perbankan di Banten menyentuh angka 8,83 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mengalami percepatan signifikan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya berada di level 5,17 persen.
“Banyak narasi di TikTok soal masyarakat mulai makan tabungan. Tapi data indikatornya tidak menunjukkan itu,” ujar Ameriza dalam Taklimat Media BI Banten di Serang, Kamis (7/5/2026).
Mengapa Narasi "Makan Tabungan" Tidak Terbukti di Banten?
Berdasarkan data BI, pilar utama DPK di Banten disumbang oleh lonjakan giro yang mencapai 34,17 persen. Sementara itu, komponen tabungan masyarakat secara spesifik masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,18 persen. Data ini menjadi bukti bahwa simpanan warga di bank tidak tergerus untuk kebutuhan konsumsi harian secara masif.
Meski secara nominal total DPK turun dari Rp310,9 triliun menjadi Rp304,3 triliun dibanding triwulan sebelumnya, BI menilai hal tersebut bukan sinyal bahaya. Penurunan itu lebih disebabkan oleh kontraksi deposito sebesar 7,96 persen, yang mengindikasikan adanya pergeseran strategi pengelolaan keuangan oleh pemilik modal.
“Deposito itu uang dingin. Bisa jadi investor memindahkan dananya ke emas atau instrumen lain yang dianggap lebih menguntungkan,” kata Ameriza menjelaskan fenomena penurunan nominal deposito tersebut.
Penyaluran Kredit Sektor Pertanian dan Transportasi Melesat
Optimisme ekonomi Banten juga tercermin dari fungsi intermediasi perbankan yang semakin agresif. Penyaluran kredit pada triwulan I/2026 tumbuh 4,68 persen, melompat jauh dari periode sebelumnya yang hanya sebesar 1,73 persen. Saat ini, total kredit yang berputar di Banten telah mencapai Rp520 triliun.
Sektor produktif tercatat menjadi motor utama penggerak kredit di wilayah ini. Sektor pertanian memimpin dengan pertumbuhan kredit mencapai 31,34 persen, disusul sektor transportasi sebesar 26,10 persen, serta real estate korporasi yang naik 12,24 persen.
“Perbankan kreditnya naik, kecepatannya juga makin naik. Modal kerja yang tadinya minus sekarang positif,” ujar Ameriza. Ia merinci bahwa kredit modal kerja kini berbalik tumbuh 4,94 persen setelah sempat terkontraksi minus 2,86 persen.
Realisasi Investasi Banten Terbesar Ketiga Nasional
Selain kinerja perbankan, konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,92 persen menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi ini diperkuat dengan realisasi investasi yang mencapai Rp34,36 triliun, atau tumbuh 10,6 persen secara tahunan.
Capaian investasi tersebut menempatkan Provinsi Banten sebagai daerah dengan realisasi investasi terbesar ketiga di Indonesia, hanya berada di bawah DKI Jakarta dan Jawa Barat. BI menilai sinergi antara konsumsi yang terjaga dan derasnya modal masuk menjadi benteng kuat bagi ekonomi Banten.
“Jadi maksud saya, ini positif indikator perbankannya. Karena selama ini banyak kekhawatiran masyarakat soal ekonomi dan tabungan, tapi data-data yang ada tidak menunjukkan itu,” tutup Ameriza.