TANGERANG — Di sudut-sudut kelurahan Kota Tangerang, para lansia tak lagi sekadar duduk di teras rumah. Mereka kini mengikuti senam pagi di Posyandu, belajar keterampilan anyaman di sekolah lansia, atau sekadar bercengkrama dalam kegiatan sosial yang difasilitasi pemkot. Ini bukan sekadar program seremonial, melainkan upaya sistematis mengubah stigma bahwa usia lanjut identik dengan ketergantungan.
Dari Sekolah Lansia hingga Pendampingan Psikolog
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Mulyani mengatakan, program-program ini menyasar kebutuhan fisik dan mental warga senior. "Melalui berbagai program tersebut, Pemkot Tangerang berharap dapat terus mewujudkan kota yang ramah lansia dan mendukung kesejahteraan masyarakat di semua kelompok usia," ujarnya di Tangerang, Sabtu.
Sekolah lansia menjadi ujung tombak. Tersebar di 13 kecamatan, sekolah ini mengajarkan kesehatan fisik, mental, keterampilan hidup, hingga kemandirian ekonomi. Targetnya mencetak lansia SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat.
535 Posyandu dan 500 Kader Siaga
Pemkot juga mengoperasikan 535 Posyandu Lansia di berbagai wilayah. Di sini, warga senior bisa memeriksakan tekanan darah dan gula darah secara rutin, mengikuti penyuluhan gizi, hingga senam bersama. Tak hanya itu, program pendampingan risiko tinggi melibatkan 500 kader yang melakukan kunjungan berkala ke rumah-rumah lansia. Mereka memantau kesehatan, memberi dukungan emosional, dan melaporkan kondisi ke puskesmas agar penanganan lebih cepat.
Sumringah: Akronim yang Menjadi Gaya Hidup
Ada pula program bernama Sumringah—akronim dari Sehat, Mandiri, Produktif, dan Bahagia. Isinya padat: pemeriksaan kesehatan, senam, edukasi pola hidup, pembinaan spiritual, hingga pelatihan keterampilan ringan. "Program ini bertujuan menciptakan lansia SMART," kata Mulyani.
Yang menarik, lansia juga difasilitasi lewat pelatihan keterampilan dan pembinaan spiritual. Interaksi komunitas digalakkan agar mereka tetap bersosialisasi dan terhindar dari isolasi sosial—masalah yang kerap menghantui warga usia emas di perkotaan. Layanan psikolog dan konseling pun disediakan bagi kelompok rentan, termasuk keluarga pendamping.
Dengan pendekatan holistik ini, Kota Tangerang tak hanya membangun infrastruktur fisik, tapi juga infrastruktur sosial yang membuat lansia merasa masih dibutuhkan. Pertanyaannya kini: akankah program serupa diadopsi kota-kota lain di Banten?