BANTEN — Infantino menggelar konferensi pers sehari sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Ia didesak soal sejumlah keputusan kontroversial tuan rumah Amerika Serikat, termasuk penolakan terhadap wasit Omar Artan. Dalam kesempatan itu, Infantino melontarkan pernyataan yang jauh berbeda dibanding saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 dua tahun lalu.
"Santai dan Rileks" Hanya untuk Amerika Serikat
"Sungguh sangat disayangkan melihat hal yang terjadi pada Omar. Namun kami tidak mengendalikan segalanya. Kami mencoba, kami berdiskusi dan kami akan berbicara," kata Infantino seperti dikutip dari Sky Sports.
"Mungkin terkadang selalu ada baiknya untuk santai dan rileks. Kami bekerja untuk segalanya dan coba mencari solusi. Terkadang, berteriak dan mengumpat bakal menimbulkan efek sebaliknya dari menemukan solusi," ujarnya menambahkan.
Frasa "santai dan rileks" itu tidak pernah diucapkan Infantino saat Indonesia menolak Israel sebagai peserta Piala Dunia U-20 2023. Saat itu, FIFA langsung mencabut status tuan rumah Indonesia dengan alasan "kondisi terkini dan ketidakmampuan memenuhi komitmen." Turnamen pun dipindahkan ke Argentina.
Alasan Berbeda untuk Kasus Visa Iran
Infantino juga menyinggung soal visa timnas Iran yang sempat tertunda. Iran bahkan tidak diizinkan bermalam di Amerika Serikat dan harus kembali ke Tijuana, Meksiko setiap selesai bertanding.
Alih-alih mengkritik kebijakan tersebut, Infantino justru menyebutnya sebagai sebuah kesuksesan. "Sebuah kesuksesan untuk bisa membawa Iran bermain di Amerika. Saya tak tahu siapa yang bisa melakukan hal itu. Kita tidak hidup di bulan, kita hidup di Bumi, dan kami mencoba yang terbaik," ujarnya seperti dikutip dari Al Jazeera.
FIFA Bisa Mendikte Indonesia, tapi Tak Kuasa Mendikte AS
Saat didesak lebih lanjut, Infantino membandingkan situasi dengan Piala Dunia Wanita 2035 di Inggris. Ia mempertanyakan apakah wajar jika FIFA mendikte pemerintah Inggris soal siapa yang boleh masuk ke negaranya.
"Apakah kalian pikir normal FIFA akan mendikte Pemerintah Inggris terkait siapa-siapa yang boleh masuk ke negara itu? Saya tak tahu, mungkin kalian pikir hal tersebut normal," tutur Infantino.
Pernyataan itu menuai sorotan karena FIFA tidak menunjukkan sikap serupa saat Indonesia menolak Israel. Saat itu, FIFA justru menegaskan nilai-nilai sportivitas dan keberagaman yang mereka anut, tanpa memberikan ruang negosiasi bagi pemerintah Indonesia.
Perlakuan berbeda Infantino terhadap Amerika Serikat dan Indonesia memunculkan pertanyaan baru soal konsistensi kebijakan FIFA di bawah kepemimpinannya. Terutama ketika menyangkut keputusan politik negara tuan rumah yang bertentangan dengan nilai-nilai sepak bola global.