BANTEN — Penunjukan Matthew Weaver sebagai Senior Vice President of Global Design merupakan sinyal terkuat dari ambisi Nissan untuk merombak bahasa desainnya. Weaver, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden desain untuk Eropa, kini memimpin seluruh tim desain Nissan di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa, menggantikan Alfonso Albaisa yang memegang posisi tersebut sejak 2017.
Warisan Desain yang Berani: Dari Juke Hingga Qashqai
Nama Weaver bukanlah sosok asing bagi penggemar crossover. Ia adalah otak di balik desain Juke generasi pertama yang kontroversial namun ikonik, serta Qashqai yang berhasil mendefinisikan segmen crossover perkotaan di Eropa. Kedua model itu membuktikan bahwa Weaver tidak takut mengambil risiko dengan proporsi dan detail yang tidak lazim.
Pendekatan ini kontras dengan periode kepemimpinan Albaisa yang lebih banyak mengusung bahasa desain "V-motion" yang cenderung aman. Kini, dengan Weaver di kursi tertinggi desain, pabrikan Jepang itu tampaknya siap meninggalkan pendekatan konservatif dan kembali ke akar yang lebih ekspresif.
Mengapa Perombakan Ini Terjadi di Tahun 2026?
Tekanan pasar terhadap Nissan tidak bisa dianggap remeh. Penjualan global yang stagnan dan persaingan ketat dari merek China yang agresif memaksa Nissan mencari diferensiasi. Desain yang kuat dianggap sebagai cara paling cepat untuk membangun kembali daya tarik merek, terutama di tengah transisi besar-besaran menuju kendaraan listrik.
Perombakan ini juga terjadi di tengah gejolak internal Nissan. Rencana merger dengan Honda yang gagal pada awal tahun lalu meninggalkan kebutuhan mendesak untuk menunjukkan kemandirian dan visi produk yang jelas. Menempatkan desainer sekaliber Weaver adalah pernyataan bahwa Nissan akan bersaing lewat karakter visual, bukan sekadar teknologi.
Arah Baru untuk SUV Listrik dan Model Ikonik
Weaver dihadapkan pada tugas besar: mengawasi desain generasi baru crossover listrik yang akan menjadi tulang punggung penjualan. Ia juga dipercaya untuk merancang ulang model-model ikonik seperti GT-R dan Z yang kabarnya akan bertransisi menjadi kendaraan listrik atau hybrid.
Dalam pernyataan resminya, Weaver menekankan pentingnya desain yang emosional. "Kami harus menciptakan mobil yang membuat orang tersenyum saat melihatnya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya akan fokus pada proporsi yang berani dan permukaan yang dramatis, elemen yang sulit ditemukan pada mobil listrik modern yang cenderung seragam.
Dampak untuk Pasar Otomotif Global dan Indonesia
Keputusan ini berimplikasi luas. Untuk pasar global, ini berarti model Nissan di masa depan tidak akan lagi tampil generik. Untuk Indonesia, di mana Nissan tengah berjuang melawan dominasi pabrikan Jepang lain, kehadiran desain baru yang segar bisa menjadi pembeda utama di segmen SUV.
Belum ada detail resmi mengenai model pertama yang lahir dari kepemimpinan Weaver. Namun, mengingat siklus pengembangan produk yang biasanya memakan waktu 3-4 tahun, publik kemungkinan besar akan melihat buah karya pertamanya pada model listrik baru yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Sampai saat itu tiba, semua mata akan tertuju pada studio desain Nissan di London dan Jepang.