PT Pertamina (Persero) mencatatkan potensi transaksi bisnis sebesar Rp10,6 miliar dari para pelaku UMKM binaannya dalam ajang Inabuyer B2B2G Expo 2026 di Jakarta. Capaian ini mempertegas komitmen perusahaan dalam memperluas akses pasar produk lokal ke rantai pasok industri nasional baik di sektor pemerintah maupun swasta.
Kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Pertamina dalam ajang Inabuyer B2B2G Expo 2026 yang berlangsung pada 5-7 Mei 2026 di Gedung SMESCO Exhibition Hall, Jakarta Selatan, berbuah manis. Dari total capaian Rp10,6 miliar tersebut, sebanyak Rp1,8 miliar berasal dari transaksi retail langsung, sementara Rp8,8 miliar merupakan potensi kesepakatan dari sesi business matching.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pertamina untuk mendorong mitra binaannya naik kelas. Tidak sekadar memamerkan produk, keterlibatan UMKM ini dirancang untuk menghubungkan produsen lokal dengan pembeli potensial dari kalangan instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga korporasi swasta berskala besar.
Eksistensi Pertamina dalam pameran ini juga mendapat pengakuan formal. Perusahaan pelat merah ini meraih penghargaan sebagai korporasi dengan transaksi buyer potensial terbanyak. Apresiasi tersebut menunjukkan peran aktif Pertamina bukan hanya sebagai pendamping, melainkan juga sebagai agregator yang membuka jalan bagi UMKM untuk menembus ekosistem pengadaan barang dan jasa nasional.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat program pembinaan agar UMKM mampu menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi. Fokus utama saat ini adalah memastikan produk lokal memiliki daya saing tinggi agar bisa diterima oleh pasar yang lebih luas dan profesional.
"Pertamina berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang tidak hanya meningkatkan kapasitas UMKM, tetapi juga membuka akses pasar dan peluang kolaborasi yang lebih luas. Inabuyer menjadi momentum strategis agar UMKM binaan dapat terhubung langsung dengan buyer potensial dan masuk ke rantai pasok nasional," ujar Baron.
Salah satu poin krusial dalam ajang ini adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh dua UMKM binaan, yakni Agrominafiber dan Rendang Gadih. Kesepakatan ini diproyeksikan menjadi batu loncatan strategis untuk ekspansi usaha yang lebih masif di masa depan. Selain itu, lima UMKM lain seperti Meraki Cipta Rasa, Novio Fresh, dan Otrahum juga terpantau mendapatkan atensi besar dari pengunjung berkat inovasi produk yang mereka tawarkan.
Guna memaksimalkan potensi kerja sama jangka panjang, Pertamina memfasilitasi enam UMKM lainnya untuk mengikuti sesi business matching khusus. Para pelaku usaha tersebut adalah Glory Nine Degrees, Sambal Ning Niniek, Cangcomak, Sanrah Food, Miniesq, dan Sambal Lauk Mak Fau. Melalui sesi ini, mereka berhadapan langsung dengan para pengambil keputusan dari berbagai sektor industri untuk menjajaki kontrak pengadaan berkelanjutan.
Brigita Lydia Syahniva, pemilik Rendang Gadih, mengakui bahwa dukungan Pertamina memberikan dampak signifikan terhadap kredibilitas usahanya di mata pembeli besar. Menurutnya, pendampingan yang konsisten membantu pelaku usaha kecil membangun jejaring bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau secara mandiri.
"Melalui pendampingan Pertamina, kami mendapatkan banyak peluang untuk memperluas pasar dan membangun jejaring bisnis yang lebih besar. Kehadiran di Inabuyer menjadi momentum penting bagi UMKM kami untuk semakin dikenal dan dipercaya oleh buyer dari berbagai sektor," kata Brigita.
Keberhasilan di Inabuyer 2026 ini menunjukkan bahwa kualitas produk UMKM Indonesia kini semakin kompetitif. Dengan dorongan investasi dan akses pasar yang tepat, para pelaku usaha lokal ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi entitas bisnis yang mandiri dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat struktur rantai pasok di dalam negeri.